Sunday, September 6, 2026

Pembelajaran STEM yang Mudah dan Murah Beserta Contohnya

 


Masih ada anggapan keliru bahwa pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) adalah hal yang rumit, membutuhkan laboratorium mahal atau peralatan berteknologi tinggi. Namun kenyataannya, pendidik tidak memerlukan printer 3D atau  mendapatkan dana hibah terlebih dahulu untuk menerapkan pembelajaran STEM. Yang pendidik butuhkan adalah kreativitas dan pola pikir yang menghargai proses daripada produk.
 
Inti dari pembelajaran STEM bukanlah peralatan, melainkan pengalaman. Alih-alih bertanya, "Peralatan apa yang bisa kita beli?", kita harus mulai dengan bertanya, "Masalah apa yang dapat kita selesaikan?". Dan pengalaman itu dapat dibangun dari bahan sekitar kita, bahkan sampah. 

Pada kesempatan kali ini guruberto.com akan membahas mengenai STEM yang mudah dan murah. Hal ini sejalan dengan prinsip STEM 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful. Prinsip ini mendorong pendidik untuk menghadirkan pembelajaran STEM yang sederhana, relevan dan dapat diterapkan sesuai kondisi satuan pendidikan.
  
Pembelajaran STEM (Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika) merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran, (tidak hanya Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika) serta berfokus pada pemecahan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran mencakup penyelidikan ilmiah, dan siklus enjinering yang berulang, pemodelan matematis, dan pemanfaatan teknologi secara tepat guna. 

Pembelajaran STEM melatih murid untuk menyelesaikan masalah dengan cara menghadirkan persoalan kontektual dalam kegiatan belajar. Penyajian konten masalah ini bertujuan untuk membangun kepedulian murid terhadap isu-isu lokal yang ada di lingkungan sekitar mereka, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap fenomena yang mereka alami secara langsung.

Masalah sampah di sekolah merupakan salah satu contoh konten masalah yang bisa diangkat dalam pembelajaran STEM. Masalah ini bersifat kontekstual karena murid mengalaminya (melihat, menghasilkan, dan berinteraksi) langsung dengan sampah setiap hari.

Berikut adalah contoh penyajian masalah timbulan sampah di lingkungan sekolah dalam pembelajaran STEM.
Proyek Sederhana : Pembuatan Pupuk Kompos
Masalah Kontekstual : Timbulan Sampah di Lingkungan Sekolah
Arahan Identifikasi Masalah
  1. Mari kita berkeliling di lingkungan sekitar, amati kondisi sampah yang dihasilkan dari aktivitas satuan pendidikan! (Sampah bercampur atau terpilah)
  2. Pertanyaan pemantik: Apa yang dapat kita lakukan untuk mengolah sampah tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk tanaman?
  3. Rancanglah cara pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan, hemat biaya, dan mudah dilakukan oleh warga satuan pendidikan. 


Adapun deskripsi integrasi STEM pada topik pembuatan pupuk kompos adalah sebagai berikut.
Sains (S)  : Sampah organik dapat didaur ulang menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.
Teknologi (T)  : Murid menggunakan aktivator (pengurai), termometer kompos, higrometer, dan pH meter untuk memantau suhu, kelembapan, dan pH di dalam tumpukan kompos secara berkala.
Enjnering (E) : Murid merancang komposter sederhana dengan mempertimbangkan lama penguraian dan jenis sampah organik di lingkungan sekolah (daun kering, sisa makanan dari kantin sekolah atau Makan Bergizi Gratis)
Matematika (M) :  Murid membaca dan menyajikan data (dalam bentuk tabel) perkembangan proses pengomposan seperti suhu, kelembapan, pH secara berkala.

Dalam praktiknya, pembelajaran STEM dengan topik pembuatan pupuk kompos ini menggunakan teknologi sederhana atau STEM yang mudah dan murah, yang memanfaatkan alat sederhana atau bahan bekas yang tersedia di lingkungan sekitar.

Melalui prinsip mudah dan murah, pembelajaran STEM tidak harus bergantung pada fasilitas yang mahal atau teknologi kompleks. Pendidik dapat memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia di sekitar sekolah seperti sampah untuk mengajak murid melakukan pengamatan, percobaan, dan menciptakan solusi.

Selamat mencoba...

Thursday, May 21, 2026

PANDUAN PENGELOLAAN BANK SAMPAH DI SEKOLAH


PANDUAN PENGELOLAAN BANK SAMPAH DI SEKOLAH (Belum Terbit)
Rp. 69.000

Penulis: Berto Sitompul
Penerbit : CV Elora Academy
Panjang : 21 cm
Lebar : 14,8 cm
Halaman : 65
ISBN: 00
Sinopsis:
Persoalan sampah bukan hanya soal volume, melainkan juga masalah kesadaran dan sistem edukasi yang belum selaras, tak terkecuali di lingkungan sekolah. Banyak sekolah belum serius mengelola sampah. Edukasi sampah sering kali gagal hanya berhenti di dalam kelas. Sistem yang berjalan selama ini masih berorientasi pada pembuangan sampah, bukan pengurangan. Praktik "daur ulang di sekolah" sering terjebak pada rutinitas simbolik, yaitu membuat kerajinan dari sampah. Kegiatan pini memang edukatif, tetapi skalanya sangat kecil dan tidak menyelesaikan persoalan utama. Bahkan tak jarang, produk kerajinan tersebut menjadi sampah baru.

Maka, dibuatlah buku ini, sebuah panduan dalam melaksanakan edukasi dan sistem manajemen sampah di sekolah melalui program Bank Sampah. Pengelolaan Bank Sampah dilakukan dari dan untuk warga sekolah (siswa, guru, staf). Melalui panduan ini, Bank Sampah diharapkan bisa jadi solusi atasi sampah di lingkungan sekolah, bukan hanya mengurangi sampah tetapi juga sumber belajar dan peluang ekonomi.

Monday, January 20, 2025

Aku Guru Hebat, Apapun Kurikulumnya


Di dunia ini serba berubah dan tak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Hal ini berlaku pula dalam bidang kurikulum. Kurikulum senantiasa berubah secara terus-menerus mengikuti kecenderungan perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan kebutuhan masyarakat dan peserta didik. Indonesia sendiri termasuk negara yang sering mengubah kurikulumnya.

Sejak masa kemerdekaan tahun 1945, pemerintah Indonesia sudah beberapa kali mengubah kurikulum, mulai dari tahun 1947 Rencana Pelajaran, dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai, Rencana Pendidikan Sekolah Dasar (1964), Kurikulum Sekolah Dasar (1968), Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) (1973), Kurikulum Sekolah Dasar (1975), Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Revisi Kurikulum 1994 (1997), Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (2006), Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka (2024). Dan, sekarang kita dihadirkan dengan perubahan substansi kurikulum, yakni pendekatan deep learning atau Pembelajaran Mendalam.

Kurikulum tidak boleh statis, harus berubah. Maka karena itu perubahan substansi kurikulum merupakan hal biasa. Yang ingin dipersoalkan di sini bukan substansi perubahan kurikulum, tetapi lebih difokuskan pada tindakan antisipatif terhadap perubahan substansi kurikulum tersebut, yang ditampakkan guru dalam kemampuan inovatifnya ketika melaksanakan kurikulum di sekolah. 

Guru perlu tanggap secara proaktif, ketika adanya perubahan substansi kurikulum yang tak sekadar pasrah atas perubahan substansi kurikulum tersebut.

Nana Syaodih berkata, betapa pun bagusnya kurikulum (official), tetapi hasilnya sangat tergantung pada apa yang dilakukan guru dan juga murid dalam kelas (aktual). Sebagus apapun kurikulum yang dicanangkan, jika guru sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran tidak dapat memahami dan mengaplikasikan hasilnya pun akan sia-sia.

Jadi, selain perbaikan berkala terhadap kurikulum sebagai acuan pelaksanaan pendidikan, juga perlu diperhatikan pula pengembangan kualitas dan kemampuan guru sebagai pelaksana dari kurikulum itu sendiri.

Pemahaman dan inovasi guru tentang kurikulum akan menentukan rancangan guru (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, RPP) dan diterjemahkan ke dalam bentuk kegiatan pembelajaran di kelas. Kelaslah yang menjadi garis depan perubahan dan perbaikan kurikulum.

Guru juga harus menguasai kurikulum yang berlaku saat ini, sehingga mampu memahami dan menerjemahkan pesan-pesan kurikulum dengan cerdas. Tak sedikit guru  yang menjalankan perubahan substansi kurikulum dengan mengubah sampul serta perangkat mengajarnya sesuai format yang telah diberikan pada kegiatan-kegiatan pelatihan baik secara luring maupun daring.

Pengalaman menunjukkan meski kurikulum sering berubah, kenyataannya cara mengajar sebagian guru di depankelas tak banyak berubah. Dari dulu sampai sekarang sebagian guru asyik dengan metode konvensional. Sebuah fenomena yang menggambarkan betapa 'miskinnya' pengetahuan sebagian guru kita tentang model/pendekatan/strategi/metode/teknik pembelajaran.

Akhirnya, apapun perubahan substansi kurikulum yang hendak digagas, kita (guru dan manajemen sekolah) mesti bersungguh-sungguh dalam pelaksanaannya di sekolah. Biarlah substansi kurikulum berubah dan guru tetap berbenah.

Friday, January 17, 2025

Apa Itu Mindful Learning dan Penerapannya dalam Pembelajaran


Mendikdasmen Abdul Muti menggagas pendekatan deep learning dalam pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Salah satu elemen utamanya adalah mindful learning

Mindful learning atau pembelajaran yang sadar adalah pendekatan yang menekankan kesadaran penuh dan perhatianpada setiap proses belajar. Dengan menjadi sadar secara penuh, siswa diharapkan dapat lebih fokus, terlibat, dan terbuka terhadap pengalaman belajar mereka.

Arti Mindful Learning Menurut Ahli
Mindful learning menurut ahli

Berikut beberapa defenisi dari para ahli:
1. Ellen Langer (2016)
Mindful learning adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan perhatian penuh pada momen saat ini dan kesediaan untuk melihat berbagai perspektif.

2. Brown dan Ryan (2003)
Menurut Brown dan Ryan, pengertian mindfulness dalam pembelajaran adalah adanya kesadaran penuh terhadap proses belajar dan pengalaman belajar, yang membantu siswa lebih memahami dan merasakan keterhubungan dengan materi yang mereka pelajari

Prinsip Utama Mindful Learning
Mindful learning memiliki beberapa prinsip dasar, yaitu pertama, keterbukaan terhadap kemungkinan baru. Mindful learners tidak terjebak pada satu cara atau solusi yang sudah terbiasa. Mereka mencari berbagai kemungkinan dan tidak terbatas pada cara-cara tradisional dalam belajar.

Kedua, mengurangi pemikiran otomatis. Pembelajaran yang sadar berusaha untuk mengurangi kecenderungan berpikir otomatis, yaitu mengikuti kebiasaan atau rutinitas tanpa pertimbangan. Siswa didorong untuk lebih sering berhenti sejenak, berpikir, dan mengevaluasi cara mereka belajar.

Ketiga, proses bukan hasil. Mindful learning lebih menekankan pada proses daripada hasil akhir. Pembelajaran dianggap sebagai perjalanan yang berkelanjutan, di mana siswa aktif terlibat dan beradaptasi, bukan hanya berfokus pada pencapaian angka atau nilai.

Keempat, membangun hubungan antar pengetahuan. Salah satu aspek penting dari mindful learning adalah kemampuan untuk menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada, menciptakan pemahaman yang lebih luas dan aplikasi yang lebih relevan.

Penerapan Mindful Learning dalam Pembelajaran
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk menerapkan mindful learning dalam pembelajaran:
1. Guru memulai pembelajaran dengan latihan pernapasan sederhana selama beberapa menit untuk membantu siswa lebih fokus.
2. Siswa menuliskan pengalaman belajar mereka dalam jurnal reflektif
3. Guru memfasilitasi diskusi kelompok yang melibatkan perhatian penuh siswa terhadap pemikiran dan ide teman-temannya. Misalnya, dalam mata pelajaran IPA, guru dapat mengajak siswa melakukan observasi alam dengan kesadaran penuh, seperti memperlihatkan suara, warna, terkstur di lingkungan sekitar. Kegiatan ini membantu siswa tidak hanya belajar IPA, tetapi juga mengembangkan keterampilan fokus dan refleksi diri.

Thursday, January 16, 2025

Pengertian Deep Learning Menurut Para Ahli


Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam merupakan salah satu metode dalam kecerdasan buatan (Artificial Intelegence/AI) yang saat ini semakin banyak diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Meskipun istilah deep learning lebih sering digunakan dalam konteks teknologi, dalam dunia pendidikan istilah deep learning berkaitan dengan cara-cara yang lebih mendalam dalam memproses informasi dan meningkatkan pembelajaran siswa. Lantas, apa pengertian deep learning atau pembelajaran mendalam menurut para ahli?

Di bawah ini terdapat penjelasan mengenai pendapat para ahli mengenai deep learning. Yuk, simak penjelasan lengkapnya. 

Arti Deep Learning Menurut Ahli

Deep learning menurut John Hattie

Berikut pengertian belajar menurut para ahli yang harus kamu ketahui.
1. John Hattie (2012)
Di dalam buku Visible Learning for Teacher: Maximizing Impact on Learning (2012), John Hattie membagi belajar menjadi tiga jenis, yaitu belajar di permukaan (surface learning), belajar mendalam (deep learning), dan belajar untuk transfer (transfer learning).

Belajar mendalam adalah periode dimana siswa mendalami pemahaman mereka, dan mengaplikasikan apa yang mereka pelajari di permukaan untuk mendukung pemahaman konseptual yang lebih mendalam.


2. Ellen Langer (1997)
Deep learning lebih dari sekadar memahami materi, melibatkan pemahaman dalam konteks yang lebih luas dan reflektif. Pembelajaran mendalam ini terjadi ketika siswa benar-benar berinteraksi dengan materi, mengaitkannya dengan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya, serta menggunakan pemahaman tersebut untuk menciptakan wawasan baru dan aplikasi praktis.

3. Marton dan Salj (1976)
Deep learning mencakup pemrosesan informasi yang lebih kompleks dan reflektif. Siswa yang menggunakan pendekatan ini tidak hanya menghafal informasi, tetapi mereka berusaha untuk memahami konsep secara menyeluruh, menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada, dan melihat hubungan antar konsep. 

Karakteristik pembelajaran mendalam (deep learning) menurut Marton dan Salj (1976), yaitu: Pertama, Pemahaman Konsep dan Prinsip. Siswa berusaha memahami hubungan antar konsep bukan hanya menghafal informasi secara terpisah.

Kedua, Refleksi Mendalam. Siswa cendereung mengembangkan kemampuan analitis dan kristisnya, serta merenung dan mengeksplorasi makna serta implikasi dari infromasi yang mereka pelajari. Siswa mencari makna dan relevansi dari apa yang mereka pelajari secara kontekstual serta mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

Ketiga, Tujuan Jangka Panjang. Pembelajaran dilakukukan dengan tujuan untuk menguasai dan mengaplikasikan pengetahuan secara lebih luas dan mendalam. Apa yang diperoleh siswa tidak hanya untuk informasi jangka pendek, namun dimanfaatkan untuk manfaat yang lebih luas di jangka panjang. 

Demikianlah penjelasan mengenai deep learning  dari sudut pandang para ahli. Semoga membantumu semakin paham, ya!

Wednesday, January 15, 2025

Taksonomi SOLO dalam Deep Learning


Deep Learning
atau Pembelajaran Mendalam menggunakan taksonomi SOLO dan taksonomi Bloom. Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome = struktur hasil belajar yang diamati) merupakan kerangka kerja yang dikembangkan oleh John Biggs dan Kelvin Collins (1982) untuk menilai dan memahami tingkat kualitas hasil belajar siswa.

Taksonomi ini berfokus pada kedalaman pemahaman siswa terhadap suatu konsep atau tugas, bukan sekadar kuantitas informasi yang diperoleh.

Menurut taksonomi SOLO, tingkat pengetahuan siswa dapat dilihat melalui tahapan prestructural (belum terstruktur), unistructural (satu struktur), multistructural (banyak struktur), relational (berhubungan), dan extended abstract (abstraksi meluas).

Pada tahap prestructural, siswa tidak memahami materi atau tugas dengan benar. Mereka cenderung memberikan jawaban yang tidak relevan atau menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang memadai. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan siklus air, siswa hanya menyebut kata-kata tanpa hubungan yang jelas, seperti hujan dan air.

Tahapan unistructural, siswa hanya dapat memahami satu aspek atau ide dari konsep yang diajarkan. Mereka dapat menjawab dengan benar, tetapi pemahamannya masih sangat terbatas. Misalnya, siswa menyebutkan bahwa hujan terjadi karena penguapan air, tetapi tidak menjelaskan proses lainnya dalam siklus air.

Tahapan ketiga adalah multistructural. Pada tahap ini, siswa dapat memahami dengan beberapa aspek dari konsep yang diajarkan, tetapi belum mampu menghubungkan aspek-aspek tersebut menjadi suatu kesatuan yang bermakna. Pemahamannya bersifat terfragmentasi. Misalnya, siswa menjelaskan bahwa siklus air melibatkan penguapan, kondensasi, dan hujan, tetapi tidak menunjukkan hubungan antara proses tersebut.

Tahapan berikutnya dari taksonomi SOLO adalah relational. Pada tahap ini, siswa dapat mengintegrasikan berbagai aspek dari konsep yang diajarkan menjadi pemahaman yang utuh. Mereka mampu menjelaskan keterkaitan di antara aspek-aspek tersebut. Misalnya, siswa menjelaskan bahwa siklus air melibatkan penguapan air dari permukaan bumi, pembentukan awan melalui kondensasi dan turunnya hujan yang mengembalikan air ke bumi, serta bagaimana proses ini berulang.

Tahapan terakhir adalah extended abstract. Siswa mampu menerapkan pemahaman mereka dalam konteks yang lebih luas atau abstrak. Mereka dapat mengeksplorasi ide baru, membuat generalisasi, atau mentransfer pengetahui ke situasi lain. Dalam hal ini, siswa menggunakan pemahamannya tentang siklus air untuk menganalisis dampak perubahan iklim terhadap pola hujan global. 

Taksonomi SOLO adalah kerangka yang digunakan untuk mengukur tingat pemahaman peserta didik melalui beberapa tingkatan hierarkis. Model ini berupaya menangkap bagaimana pemahaman berkembang dari sederhana ke kompleks. SOLO tidak hanya mengevaluasi kemampuan kognitif tetapi juga memfasilitasi pengajaran yang berpusat pada peserta didik. 

Tuesday, January 14, 2025

Apa Itu Deep Learning dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam

Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam merupakan salah satu metode dalam kecerdasan buatan (Artificial Intelegence/AI) yang saat ini semakin banyak diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Meskipun istilah deep learning lebih sering digunakan dalam konteks teknologi, dalam dunia pendidikan istilah deep learning berkaitan dengan cara-cara yang lebih mendalam dalam memproses informasi dan meningkatkan pembelajaran siswa.

Salah seorang ahli yang memiliki pandangan penting  tentang pembelajaran mendalam adalah John Hattie, profesor pendidikan asal Selandia Baru. John Hattie dikenal karena penelitian yang dilakukannya tentang faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. 

Di dalam buku Visible Learning for Teacher: Maximizing Impact on Learning (2012), John Hattie membagi belajar menjadi tiga jenis, yaitu belajar di permukaan (surface learning), belajar mendalam (deep learning), dan belajar untuk transfer (transfer learning).

1. Belajar di permukaan (surface learning)
Belajar di permukaan berarti belajar konsep, keterampilan, dan strategi yang akan menjadi dasar bagi siswa agar mereka dapat berpikir secara lebih mendalam.

2. Belajar mendalam (deep learning)
Belajar mendalam adalah periode dimana siswa mendalami pemahaman mereka, dan mengaplikasikan apa yang mereka pelajari di permukaan untuk mendukung pemahaman konseptual yang lebih mendalam. 

3. Belajar untuk transfer (transfer learning)
Belajar untuk transfer adalah kondisi di mana siswa menggunakan pemahaman mereka yang telah didalami untuk menggunakannnya di dalam konteks atau skenario baru. Saat ini, siswa juga sudah berpikir secara metakognitif, merefleksikan pembelajaran dan pemahaman mereka. 

Penerapan Deep Learning
Penerapan deep learning dalam pembelajaran tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi, meskipun itu juga bagian penting dari konsep ini. Pembelajaran mendalam dalam konteks pendidikan melibatkan pendidikan yang lebih holistik untuk mendorong siswa berpikir kristis, menyelesaikan masalah kompleks dan membuat keputusan berdasarkan pemahaman yang menyeluruh. 

Berikut ini adalah beberapa cara untuk menerapkan deep learning dalam pembelajaran yang bersesuaian dengan pandangan John Hattie, yakni: Pertama, Penggunaan Umpan Balik yang Membangun. Hattie menyatakan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika siswa mampu menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Untuk itu, ia menekankan pentingnya peran guru dalam memberikan umpan balik yang jelas dan membimbing siswa untuk membuat koneksi antara konsep yang berbeda. 

Kedua, Mengunakan Pembelajaran Berbasis Projek. Model pembelajaran berbasis projek (Project-Based Learning, PBL) memungkinkan siswa untuk terlibat dalam tugas-tugas menantang yang memerlukan pemecahan masalah yang mendalam. Melalui projek, siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam situasi dunia nyata dan bekerja dalam kelompok untuk mengatasi tantangan.

Ketiga, Menggunakan Pembelajaran Kolaboratif. Pembelajaran mendalam juga dapat dicapai melalui kerja sama antar siswa. Melalui pembelajaran kolabortaif, siswa bekerja bekerja sama untuk menganalisis masalah, berbagi gagasan, dan menyelesaikan tugas secara berkelompok. 

Keempat, Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis. Salah satu elemen utama dalam deep learning adalah kemampuan berpikir kritis. Guru bisa mendorong siswa untuk bertanya lebih banyak, memberikan pertanyaan terbuka, dan mencari alasan yang lebih dalam untuk konsep yang sedang dipelajari sehingga siswa tidak hanya menerima informasi tetapi juga mempertanyakan dan mengeskplorasi gagasan-gagasan tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. 

Singkatnya, deep learning dalam konteks pendidikan tidak hanya berhubungan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga dengan bagaimana siswa mengaitkan dan memahami pengetahuan yang lebih mendalam. Harapannya, kualitas pembelajaran dapat semakin meningkat dengan menerapkan cara-cara ini. 

Tuesday, January 7, 2025

Young Christians are calling for climate justice


To work and to take care of it (Gen 2:15), to shape the world and to enhance at the same time: This Christian duty corresponds to the model of sustainable development.

As a young Christian, I want to be a part of a church that takes seriously its mandate to protect God's creation and the vulnarable. For me, one of the most important ways to fulfill this mandate is to address climate change.

Climate change has severe impacts on people and nature in many parts of the world. Droughts and floods destroy fields and harvest, disease are spreading. We need to take strong action on climate protection to minimise the impacts of changing climate and to save God's creation. 

I take seriously Genesis 2:15, which says, "God took the man and put him in the Garden of Eden to till it and keep it". This verse remind us that God has given us the responsibility to act of his creation - to care for, manage, oversee and protect all that God owns. 

I am not alone but part of a powerful youth movement desiring action on climate change. Youth are not only victims of climate change but are also the harbingers of climate action.

Youth Climate Action Day is a global movement of young people concerned about climate change and global injustice. They point out opportunities for action. They learn from each other. At any place on Earth we have to face special challenges. Reduction of comsumption and waste, acting environmentally friendly and dedication to renewable energies instead of coal combustion are some of our key issues. 

I have been invited twice to talk to young Christian in the Youth Climate Action Day 2024, first at the workshop in the Role of Youth and Climate Justice on September 21-22, 2024 at Batam, Riau Islands Province, Indonesia. The activities of the Youth Climate Action Day, held by the United Evangelical Mission (UEM) Asia Region in collaboration with the Christian Protestant Church of the Batak (HKBP) District of the Riau Islands. 

The participants in this event included young people from Batam area, as well as UEM member churches. The UEM member churces show that we need ecumenical co-operation and advocacy on climate and eco-justice. For me, churches are a hope for the future of our faith and climate action response. 

For the second time around, I was invited to be the resource speaker  in the Bohol Conference Youth Fellowship (BCYF) Koinonia 2024. The BCYF Koinonia 2024 aims to inspire and empower young Christian as they gather to deepen their faith, renew their commitment to service, and reflect on the vital role they play as stewards of creation in a world facing unprecedented environmental challeges.

Youth Climate Action Day in the BCYF Koinonia 2024

This event held by the Bohol Christian Youth Fellowship in partnership with the UEM Asia Region, under the theme "TAHAS". In Cebuano, TAHAS means task, duty, or mission. TAHAS remind us our responsibility to be stewards of the Earth and to protect its resources for future generations.

TAHAS inspired more than 1000 young Christian to take responsibility for creation in the BCYF Koinonia 2024 on December 27-31, 2024 at San Miguel, Bohol, Philippines.

Youth for climate justice
Young people are not only victims of climate change. They are also valuable contributors to climate action. Young Christians are calling for climate justice in their communities, workplaces, and churches, and are working to lobby for change more widely. They believe that God has given humans a responsibility to care creation, and that human should act as stewards of the environment.

Together, we can contribute to the climate justice through adopting sustainable pratices, supporting local environmental initiatives, and pushing for stronger climate policies.

Young people from all over the world are taking part in Youth Climate Action Day. Chek out Youth Climate Action Day at climateactionday.org

Join the global climate action movement, learn more and TAKE ACTION TODAY!

Berto Sitompul is an ecopedagogical practitioner and founder of the Teaching Waste Bank, Indonesia. Teaching Waste Bank is an initiative to encourage people especiallly young generation to manage waste as part of climate change mitigation. 

Sunday, October 27, 2024

10 Istilah Dalam Pendidikan Perubahan Iklim yang Harus Dipahami Guru

Panduan Pendidikan Perubahan Iklim

Pendidikan perubahan iklim merupakan salah isu prioritas dalam Kurikulum Merdeka ataupun Kurikulum Nasional. Hal ini menjadikan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum yang responsif perubahan iklim untuk mempersiapkan generasi berketahanan terhadap dampak krisis iklim.

Pemerintah telah merilis Panduan Pendidikan Perubahan Iklim dalam giat yang bertajuk "Bergerak Bersama untuk Pendidikan Perubahan Iklim dalam Kurikulum Merdeka" pada Selasa, 27 Agustus 2024. Panduan Pendidikan Perubahan Iklim dapat diakses dan dipelajari lebih lanjut melalui tautan berikut kurikulum.kemdikbud.go.id

Menurut Panduan Pendidikan Perubahan Iklim, pendidikan perubahan iklim adalah salah satu isu prioritas dalam kurikulum yang bertujuan mengembangkan kompetensi peserta didik dalam menghadapi krisis iklim. 

Pendidikan perubahan iklim kini menjadi bagian dari kurikulum nasional di Indonesia, diterapkan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.


Ada berbagai macam istilah-istilah penting dalam pendidikan perubahan iklim. Jika tidak dipahami artinya, Bapak dan Ibu guru mungkin akan kesulitan saat memasukkannya dalam proses pembelajaran. 

Maka dari itu, sebaiknya pahami istilah-istilah dalam pendidikan perubahan iklim. Apa saja istilah baru yang akan sering digunakan dalam pendidikan perubahan iklim ini dan apa artinya? Berikut penjelasannya. 

Perubahan iklim
Perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca bumi, dapat terjadi secara alami misalnya akibat letusan gunung berapi dan aktivitas matahari maupun aktivitas manusia. Saat ini perubahan iklim terbukti telah menimbulkan dampak risiko dan bahaya yang mengancam keberlanjutan kehidupan tidak hanya manusia tetapi semua mahluk di Bumi, sehingga para ilmuwan sepakat untuk menyebutnya sebagai "krisis iklim". 

Krisis iklim
Perubahan iklim yang telah berada pada tingkatan ekstrem sehingga dapat mengancam keberlanjutan kehidupan semua mahluk di bumi. Frasa "krisis iklim" dipakai oleh ilmuwan dan pegiat lingkungan untuk menggambarkan situasi sangat genting akibat perubahan iklim yang mengancam keberlanjutan kehidupan semua mahluk di bumi. 

Antropogenik
Peristiwa yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Sederhananya, penyebab krisis iklim adalah manusia. Aktivitas menusia menghasilkan gas rumah kaca yang menjadi penyebab paling utam pemanasan global sehingga terjadinya krisis iklim. 

Pemanasan global
Meningkatnya suhu permukaan bumi akibat akumulasi gas rumah kaca di atmosfer. Pemanasan global banyak disebabkan oleh aktivitas manusia terutama dari kegiatan pembakaran menggunakan bahan bakar fosil seperti kegiatan produksi di pabrik, penggunaan alat transportasi, dan lainnya. 

Gas Rumah Kaca (GRK)
Sekelompok gas yang memiliki kemampuan menyerap energi panas cahaya matahari, termasuk diantaranya karbondioksida, metana dan dinitrrogen oksida. Akumulasi gas-gas tersebut menciptakan lapisan tebal yang menangkap radiasi panas sehingga menyebabkan peningkatan suhu global dan berdampak bagi bumi.

Efek rumah kaca
Proses terperangkapnya panas matahari di dekat permukaan oleh zat-zat yang dikenal sebagai gas rumah kaca. Keberadaan efek tersebut membuat suhu di bumi tetap optimal untuk kehidupan dan tempat tinggal berbagai mahluk hidup. Namun, efek rumah kaca yang tidak terkendali akibat peningkatan gas rumah kaca dan emisi karbon dioksida menimbulkan dampak negatif.  

Adaptasi perubahan iklim 
Berbagai usaha untuk melindungi diri atau menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi di masa depan.

Mitigasi perubahan iklim
Segala bentuk tindakan untuk memperlambat laju perubahan iklim, umumnya terdiri: (1) usaha mengurangi emisi gas rumah kaca, dan (2) usaha menyerap gas rumah kaca dari atmosfer bumi.

Rendah karbon
Aktivitas manusia yang dipilih atau dirancang sedemikian rupa agar tidak mengahasilkan gas rumah kaca atau menghasilkan sesedikit mungkin gas rumah kaca. Sebagai contoh: "gaya hidup rendah karbon", "pembangunan rendah karbon", dan lain-lain.

Bencana hidrometorologi
Hidro = air, metereologi = cuaca. Peristiwa terkait air dan cuaca yang menimbulkan kerugian atau korban.  

Itulah beberapa istilah dalam pendidikan perubahan iklim yang akan sering Bapak dan Ibu guru temui dan gunakan saat memasukkan isu perubahan iklim dalam proses pembelajaran. Semoga bermanfaat. 

Tuesday, October 15, 2024

P5 Jangan Ngasal

Projek penguatan profil pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka

Sejak Kurikulum Merdeka diluncurkan, kita sering mendengar tentang P5 yakni projek penguatan profil pelajar Pancasila. Meskipun sudah berjalan beberapa tahun akan tetapi di lapangan tidak sedikit yang mispersepsi terkait implementasinya. Beberapa praktik yang terjadi, seperti P5  harus menghasilkan sebuah produk dalam bentuk barang untuk dipamerkan dan jenis produk sudah ditentukan.
 
Tidak mengherankan jika kemudian demi terlihatnya P5 di sekolah, guru-gurunya yang kemudian sibuk merancang kegiatan, menginstruksikan murid untuk melakukan ini itu, atau bahkan guru-gurunya yang sibuk mengerjakan projek dibantu oleh muridnya, lalu setelah projek selesai, lenyap pula karakter yang menjadi esensi dimensi profil pelajar Pancasila.

Padahal P5 itu bukan sekadar produk dan selebrasi panen hasil belajar. P5 merupakan penguatan karakter murid. Produk atau aksi yang dihasilkan berasal dari karakter-karakter baik yang berhasil tertanam dan dikembangkan oleh anak melalui pelaksanaan P5. Apa gunanya punya produk atau aksi tetapi karakter tidak berhasil tertanam dan dikembangkan oleh murid? Apa gunanya selebrasi jika karakter baik tidak berhasil ditanamkan di kehidupan mereka sehari-hari?


P5 seharusnya menjadi jembatan solusi untuk berbagai masalah di sekolah. Melalui P5, murid belajar tidak hanya teori, tetapi juga mengembangkan karakter, kreativitas, dan kolaborasi untuk menghadapi tantangan nyata. Lebih dari sekadar tampilan, panen karya adalah perayaan perjalanan dan pembelajaran. 

Mencermati Tujuan
Menentukan Tujuan P5


Saat memulai P5, banyak sekolah yang memulai dengan pertanyaan, "Mau angkat tema apa ya di P5 tahun ini?" atau "Produk apa yang akan dihasilkan dalam P5 nanti?".

Padahal sesunguhnya ada yang lebih penting daripada produk ataupun tema, yakni tujuan P5 yang akan dicapai. Sesuai namannya, tujuan P5 adalah mencapai kompetensi dan karakter yang tertuang dalam dimensi. Ini yang sering diabaikan, di banyak sekolah selalu berfokus pada produk atau tema.
 
Sekali lagi, P5 tidak harus menghasilkan produk, kegiatannya tidak harus berbiaya besar, dan tidak harus mengandalkan teknologi. Ukuran keberhasilan P5 bukan terletak kepada kemeriahan acara atau besarnya biaya yang dikeluarkan, tetapi pengembangan karakter yang dirasakan oleh peserta didik. Hal ini yang perlu dicatat dan dijadikan patokan oleh satuan pendidikan atau oleh guru.

Proses atau Aktivitas
Projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) merupakan upaya untuk mendorong tercapainya profil pelajar Pancasila dengan menggunakan paradigma baru melalui pembelajaran berbasis projek. 

Menurut Edutopia, pembelajaran berbasis proyek (project based learning) disingkat PjBL adalah pendekatan kelas yang dinamis di mana peserta didik secara aktif mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.


Di dalam pembelajaran berbasis projek kita memang dihadapkan pada kegiatan dan produk dengan tema tertentu. Namun, dalam hal ini yang menjadi fokus utama kita adalah bagaimana proses pembelajarannya bisa bermakna bagi kemajuan belajar peserta didik, bukan produknya. 

Selama ini guru beranggapan pembelajaran menghasilkan produk merupakan pembelajaran berbasis projek ternyata keliru. Bukan produk atau nilai yang menjadi tujuannya tetapi proses pembelajaran yang meningkatkan kompetensi murid. 

Murid terlibat dalam pembelajaran dan mampu mencari, memecahkan permasalahan yang dihadapinya dengan projek yang diberikan dengan pertanyaan pemantik. Karenanya, guru perlu merancang pertanyaan pemantik dan pertanyaan apa yang perlu diketahui terkait topik projek (need to know questions).
 

Perbedaan pembelajaran projek dan pembelajaran berbasis projek

P5 tidak sama dengan projek pembelajaran mata pelajaran. Keduanya jelas memiliki tujuan capaian yang berbeda. Di P5, tujuannya adalah pencapaian dimensi profil pelajar Pancasila, sedangkan projek mata pelajaran tujuannya Capaian Pembelajaran. 

Pembelajaran berbasis projek bukan hanya kegiatan-kegiatan membuat produk atau karya, namun kegiatan yang mendasarkan seluruh rangkaian aktivitasnya pada sebuah persoalan yang kontekstual. Oleh karenanya, pembelajaran berbasis projek biasanya mencakup beragam aktivitas yang tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek. 

Pelibatan murid secara aktif dalam seluruh tahapan projek (pengenalan tema, kontekstualisasi, aksi nyata, refleksi, kritik, dan revisi) menumbuhkan perasaan kepemilikan pada proses belajar yang dapat mendorong murid menjadi pembelajar aktif.

Asesmen
Asesmen P5 bukan  membandingkan produk murid dan menilai produk tetapi rubrik pencapaian dimensi untuk menyimpulkan pencapaian projek profil. Data diperoleh dari jurnal (guru) dan portofolio (peserta didik). Hasil data yang terkumpul selama proses P5 berlangsung, lalu diolah sebagai gambaran capaian peserta didik secara menyeluruh.

Dengan mencermati tujuan, proses atau aktivitas, dan asesmen dalam P5 dapat meeluruskan mispersepsi P5. Harapannya, P5 memberikan kesempatan kepada murid meningkatkan kompetensi dan karakternya sesuai dengan profil pelajar Pancasila. 

Monday, June 24, 2024

Surat Terbuka untuk Mas Menteri: Sebuah Apresiasi atas Kurikulum Peduli Lingkungan


Mas Menteri yang saya hormati, 

Saya menulis surat terbuka ini sebagai ucapan terima kasih atas inisiatif Mas Menteri menjadikan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum peduli lingkungan. Kurikulum yang responsif perubahan iklim. Itu sebuah kebijakan yang sangat besar artinya bagi anak-anak dan generasi muda untuk siap menghadapi dan mampu beradaptasi dengan kondisi bumi. 

Memasukkan tema lingkungan dan perubahan iklim ke dalam kurikulum sekolah seperti integrasi pendidikan perubahan iklim dalam Kurikulum Merdeka adalah program yang brilian. Terkait dengan itu, Mas Menteri sudah menjawab keinginan masyarakat Indonesia tentang urgensi iklim pada kebijakan dan kurikulum. 

Hal ini sejalan dengan survei jaringan pembangunan global PBB (UNDP) yang menemukan bahwa lebih dari separuh atau 54 persen masyarakat Indonesia menyerukan sekolah untuk memberi lebih banyak materi tentang perubahan iklim.

Saya yakin, Mas Menteri berkomitmen memperkuat pendidikan perubahan iklim. Hal ini tampak jelas dalam salah satu tujuan kebijakan Kurikulum Merdeka, yaitu membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang sadar perubahan iklim. 

Dan perubahan iklim ditetapkan sebagai salah satu isu prioritas yang diterapkan lintas mata pelajaran melalui (1) intrakurikuler, mengintegrasikan ke dalam capaian pembelajaran mata pelajaran dan  contoh modul ajar mata pelajaran yang dapat dikontekskan dengan isu perubahan iklim, misalnya program nol sampah dan keanekaragaman hayati; (2) kokurikuler, mengintegrasikan dengan tema projek penguatan profil pelajar Pancasila seperti Gaya Hidup Berkelanjutan; (3) ekstrakurikuler, memasukkan perubahan iklim dalam aktivitas ekstrakurikuler; dan (4) budaya sekolah, mengintegrasikan dalam budaya sekolah (kebiasaan dan kebijakan di tingkat sekolah). 

Mas Menteri, secara khusus saya ingin menyampaikan tentang pentingnya ekstrakurikuler lingkungan hidup bernama Bank Sampah Sekolah. Bank Sampah Sekolah adalah fasilitas untuk mengelola sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) sebagai sarana edukasi, perubahan perilaku, dan ekonomi sirkular yang dibentuk dan dikelola oleh warga sekolah. 

Prinsip kerja Bank Sampah Sekolah adalah mengumpulkan sampah yang dapat didaur ulang dan terpilah dari warga sekolah serta memiliki manajemen layaknya bank konvensional tetapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah

Baru-baru ini, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) meluncurkan pedoman menghijaukan sekolah dan kurikulum hijau yang memuat pentingnya fasilitas dan program pengelolaan sampah dan sampah elektronik (e-waste) di sekolah meliputi pemilahan sampah dan edukasi. Pengelolaan sampah elektronik ini masih sangat jarang dilakukan di sekolah-sekolah di Indonesia baik dalam bentuk edukasi e-waste maupun pengumpulan sampah elektronik (e-waste collection).

Saya berharap sekali, Mas Menteri, ada regulasi dan panduan yang dikeluarkan oleh Kemendikbudristek terkait ekstrakurikuler lingkungan hidup, Bank Sampah Sekolah, sebagai upaya untuk menghijaukan sekolah. Saya yakin bahwa sekolah bisa menjadi tempat pendidikan pengelolaan sampah sejak dini dengan mempraktikkan pengelolaan sampah mulai dari pemilahan, pengumpulan, penimbangan, dan hingga penabungan sampah di Bank Sampah Sekolah. 

Selain itu, dengan adanya Bank Sampah Sekolah dapat menjadi sumber belajar pada projek penguatan profil pelajar Pancasila tema Gaya Hidup Berkelanjutan, mendukung Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS), dan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di sekolah.

Semoga integrasi pendidikan perubahan iklim dalam Kurikulum Merdeka ini dapat terus dipertahankan dan diperluas ke hal-hal baik lainnya seperti ekstrakurikuler lingkungan hidup, Bank Sampah Sekolah.

Salam nol sampah!
Berto Sitompul*

*) Berto Sitompul menginisiasi Bank Sampah Mengajar (BASMENJAR) di Kabupaten Bengkalis, Riau dan mempelopori edukasi e-waste dan pengumpulan sampah elektronik (e-waste collection) pertama di Pulau Sumatera.  

Friday, April 12, 2024

Peranan Teknologi dalam Pendidikan Anak di Era Digital

Belajar di perangkat tablet (Dok. Kumon)

"Orang yang tidak meluangkan waktu lima hingga 10 jam seminggu dalam pembelajaran digital akan menjadi usang dengan teknologi"
Stephenson, CEO dan pimpinan AT&T 

Pada masa sekarang ini, perkembangan teknologi bisa dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya adalah bidang pendidikan. 

Dulu, sekolah hanya bisa dilakukan bila guru melakukan tatap muka dengan para siswa. Namun di era digital ini, kegiatan tatap muka seolah-olah tidak perlu dilakukan karena adanya bantuan teknologi. 

Adanya penerapan teknologi untuk menunjang pendidikan sebetulnya bukan hal-hal yang baru amat. Namun sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, keberadaan teknologi semakin memiliki peran penting dalam pendidikan anak. 

Mengingat saat ini anak usia sekolah mengandalkan teknologi untuk belajar, bermain, dan juga bersosialisasi dengan teman-temanya. 

Tiga kebutuhan tersebut semakin meningkat ketika anak memasuki usia remaja. Misalnya, saat ini semakin marak kursus online seperti kursus bahasa inggris online dan les matematika online 

Kali ini, guruberto.com akan menjelaskan beberapa peranan penting teknologi dalam pendidikan anak di era digital. Yuk, simak ulasannya. 

Peranan teknologi dalam pendidikan anak



Peranan teknologi dalam dunia pendidikan berkembang pesat seiring dengan munculnya peralatan dan aplikasi untuk menunjang proses pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, ini dia lima peranan teknologi dalam pendidikan anak di era digital.
1. Meningkatkan minat belajar anak
Salah satu peranan teknologi dalam pendidikan adalah meningkatkan minat belajar anak. Karena teknologi dapat membantu guru dalam menyiapkan materi dan perangkat ajar agar lebih menarik dibandingkan melalui metode tradisional.

Selain itu, kebanyakan anak familiar dengan teknologi dan piawai bermain gawai sehingga mereka cenderung lebih tertarik terhadap aktivitas pembelajaran melalui teknologi.

2. Memudahkan proses pembelajaran
Peranan teknologi dalam pendidikan selanjutnya adalah memudahkan proses pembelajaran. Teknologi memberikan akses mudah ke beragam sumber belajar seperti buku elektronik, lembar kerja, video pembelajaran, dan aplikasi pendidikan.

Salah satu manfaat utama penggunaan teknologi dalam pembelajaran adalah keluwesan. Anak tidak terikat oleh waktu dan tempat tertentu, mereka tetap bisa belajar kapan saja dan di mana saja sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Metode pendidikan berbasis teknologi seperti itu salah satunya ada di KUMON CONNECT. Di sini anak dapat belajar secara digital dengan metode Kumon menggunakan tablet sebagai media belajar. Tablet juga sudah diisi dengan lembar kerja pelajaran matematika dan bahasa inggris. 

Melalui Kumon digital, materi dan soal-soal yang diajarkan di bimbel matematika anak dan les bahasa inggris anak bisa kita dapatkan hanya dalam genggaman.

3. Memantau kemajuan belajar
Peranan teknologi dalam pendidikan berikutnya adalah mendukung penilaian dan pemantauan kemajuan belajar anak. 

Kita contohkan pada penggunaan KUMON CONNECT. Tak hanya anak, Ayah dan Bunda juga dapat terhubung melalui KUMON CONNECT sehingga dapat memantau perkembangan belajar anak dan mengetahui umpan balik dari pengajar melalui fitur Study Records.

Melalui fitur tersebut, kita bisa melihat hasil belajar dan informasi mengenai tanggal pengerjaan, lamanya waktu pengerjaan, dan banyaknya lembar kerja yang sudah dikerjakan.

4. Membangun kolaborasi 
Peranan teknologi dalam pendidikan selanjutnya adalah membangun kolaborasi yang kuat. Melalui teknologi, anak dapat bekerja sama dengan teman-teman di seluruh dunia.

Ketika terkoneksi dengan internet, mereka dapat berbagi ide, informasi, pengalaman, keterampilan, dan memecahkan masalah bersama melalui projek-projek online. Ini mengajarkan mereka pentingnya kolaborasi dalam dunia yang semakin terhubung.

5. Menumbuhkan kesadaran akan lingkungan
Terakhir, peranan teknologi dalam pendidikan anak adalah menumbuhkan kesadaran akan lingkungan. 

Salah satu aspek penting dari penggunaan teknologi dalam pembelajaran adalah mendukung keberlanjutan dan meningkatkan kesadaran lingkungan untuk bumi yang lebih baik. 

Hal ini karena pembelajaran menggunakan teknologi dapat mengurangi pengggunaan kertas seperti KUMON CONNECT, tidak butuh kertas atau buku (paperless). 

Dalam proses pengerjaan soal, KUMON CONNECT lebih ramah lingkungan karena anak mengerjakan soal melalui perangkat tablet dengan stylus pen.

Di samping itu, pembelajaran menggunakan teknologi juga dapat menghemat energi dan mengurangi emisi. 

Universitas Terbuka di Inggris menemukan bahwa rata-rata belajar daring 90 persen lebih sedikit energi dan 85 persen lebih sedikit emisi per siswa.

Mengingat pentingnya peranan teknologi dalam pendidikan anak di era digital, sewajarnyalah Ayah dan Bunda serta Bapak, Ibu guru untuk menjaga waktu yang dihabiskan anak-anak di depan layar, memastikan konten yang mereka akses sesuai, dan mengajarkan etika berkomunikasi yang baik di dunia digital.
 

Hybrid learning yang menyenangkan


Kita ingat di tahun 2020, pandemi Covid-19 menyebabkan dunia pendidikan harus mengalami perubahan metode kegiatan belajar mengajar dari tatap muka ke daring dengan pemanfaatan teknologi digital dan internet.
 
Selain adanya teknologi, pemilihan metode pembelajaran yang tepat juga dapat membantu proses pembelajaran, hybrid learning hadir sebagai solusi pembelajaran saat ini meski tak lagi pandemi. 

Hybrid learning merupakan metode pembelajaran dengan sistem daring yang dikombinasikan dengan pertemuan tatap muka untuk beberapa jam. 

Metode pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk belajar di mana saja dan kapan saja dengan menggunakan teknologi digital. 

Penerapan hybrid learning juga dinilai lebih efektif untuk meningkatkan prestasi, keterlibatan siswa, dan pandangan positif mereka tentang pembelajaran. 

Kombinasi pembelajaran daring dengan tatap muka berhasil memadukan metode hybrid learning. Belakangan ini, metode hybrid learning tidak hanya digunakan untuk membantu anak belajar di sekolah, tetapi juga oleh beberapa lembaga kursus.

Hybrid learning 

Kumon, lembaga kursus asal Jepang menyediakan pembelajaran secara hybrid dengan materi yang lengkap dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Sehingga pengajar dan Ayah dan Bunda dapat mengoptimalkan potensi belajar anak semaksimal mungkin.
 
Semakin menarik, sekarang Kumon menghadirkan metode hybrid learning yang menyenangkan, yaitu KUMON CONNECT

Metode belajar ini menggunakan tablet sebagai media belajar sehingga menarik minat anak untuk bersemangat belajar. Tablet juga dilengkapi dengan stylus pen untuk memudahkan mereka untuk menulis dan berkreasi.

Untuk informasi leboh lanjut mengenai program KUMON CONNECT, Ayah dan Bunda bisa langsung menghubungi Kumon terdekat atau mengunjungi laman Kumon disini

Tunggu apalagi? Yuk, segera daftarkan anak-anak untuk mengikuti kelas KUMON CONNECT.(*)

Friday, January 5, 2024

5 Langkah Menuju Sekolah Adiwiyata


Bapak Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara pernah berkata bahwa sejatinya sekolah itu layaknya taman. Taman yang menyenangkan untuk belajar dan taman bermain. Hal ini sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang juga mendorong transformasi satuan pendidikan diantaranya menjadi tanggung jawab seluruh insan pendidikan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan, dan inklusif. Upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, menyenangkan dan inklusif adalah menghadirkan program Adiwiyata

Mengutip Buku Sekolah Adiwiyata (Panduan Implementasi Adiwiyata Mandiri di Sekolah) dijelaskan bahwa secara etimologi, Adiwiyata berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta, yakni "Adi" artinya besar, ideal, agung, dan sempurna. Sedangkan "Wiyata" artinya tempat yang bagus dan ideal untuk memperoleh segala ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam kehidupan sosial. Secara keseluruhan Adiwiyata bermakna sebagai tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yag dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita dan menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan.

Adapun tujuan program Adiwiyata adalah untuk mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Untuk mencapai tujuan program Adiwiyata, maka ditetapkan 4 (empat) komponen program yang menjadi satu kesatuan yang utuh dalam mencapai sekolah Adiwiyata. Keempat komponen tersebut adalah:
  1. Kebijakan Berwawasan Lingkungan
  2. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Lingkungan
  3. Kegiatan Lingkungan Berbasis Partisipatif
  4. Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan
Komponen 1 dan 2 merupakan kewenangan dan kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan kompponen 3 dan 4 merupakan kewenangan dan kebijakan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Program Adiwiyata bukanlah program khusus yang harus dilaksanakan oleh pihak sekolah. Mengutip Buku Panduan Adiwiyata, ada 5 (lima) langkah  menuju sekolah Adiwiyata, yaitu membentuk tim Adiwiyata sekolah, menyusun kajian lingkungan sekolah, menyusun rencana aksi lingkungan sekolah, melaksanakan kegiatan aksi lingkungan, dan terakhir adalah evaluasi  dan monitoring.

1. Membentuk Tim Adiwiyata Sekolah
Tim Adiwiyata sekolah harus mengandung unsur kepala sekolah, komite sekolah, guru, tenaga kependidikan (tata usaha), siswa, orang tua siswa, pemerintah setempat (kelurahan, kecamatan), perguruan tinggi, masyarakat sekitar termasuk juga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Tim Adiwiyata sekolah sebaiknya terdiri dari tim inti dan tim teknis. Sebagai contoh, susunan tim Adiwiyata dapat mengacu pada ketentuan berikut.
Tim Inti:
  • Koordinator
  • Sekretaris
  • Bendahara
Tim Teknis
  • Kelompok Kerja Bidang Kebijakan
  • Kelompok Kerja Bidang Kurikulum
  • Kelompok Kerja Bidang Kegiatan Partisipatif
  • Kelompok Kerja Bidang Sarana Prasarana
Peranan dari tim Adiwiyata sekolah adalah untuk mengkoordinasikan tentang pelaksanaan program Adiwiyata, pengelolaan lingkungan di sekolah, pelibatan semua unsur warga sekolah, dan keterlibatan aktif dari seluruh siswa.

2. Menyusun Kajian Lingkungan Sekolah
Fungsi utama dari penyusunan kajian lingkungan adalah untuk mengetahui gambaran dan kondisi lingkungan sekolah (lingkungan dimana sekolah tersebut berdiri) saat ini yang perlu segera dilakukan langkah perbaikan. Selain itu, kajian lingkungan akan memberikan gambaran informasi tentang rencana akasi lingkungan yang akan dilakukan. Dengan menyusun kajian lingkungan, maka sekolah dapat menentukan arah yang jelas terhadap pelaksanaan program Adiwiyata, sehingga setiap sekolah tidaklah mungkin menghasilkan kajian lingkungan yang sama, dan tentunya tidak mungkin pula melaksanakan rencana aksi yang sama.

Penyusunan kajian lingkungan dapat dilakukan dengan cara:
  • Tim harus memastikan bahwa seluruh anggota bekerja sama sebaik mungkin untuk melaksanakan kajian, sebanyak mungkin siswa berpartisipasi dalam proses ini,
  • Kajian lingkungan oleh tim sekolah dapat dilakukan melalui sebuah instrumen checklist mencakup berbagai isu lingkungan yang terjadi di sekolah, misalnya:
  1. Sampah
  2. Air
  3. Energi
  4. Makanan dan kantin sekolah
  5. Keanekaragaman hayati
  6. (masalah lingkungan yang menjadi isu lingkungan di sekolah)
Dari isu lingkungan yang ada, sekolah dapat memfokuskan pada satu atau beberapa masalah yang akan ditetapkan menjadi fokus dalam melakukan rencana aksi lingkungan.
  • Kajian lingkungan dilakukan pada kurun waktu tertentu, misalanya dilakukan tahunan atau dua tahun sekali sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Hal tersebut dilakukan untuk mengukur dan mengevaluasi kemajuan kinerja tim sekolah.
3. Penyusunan Rencana Aksi Lingkungan
Rencana aksi harus dikembangkan berdasarkan hasil kajian lingkungan yang telah dilakukan. Dalam penyusunan rencana aksi lingkungan perlu diperhatikan bahwa sasaran yang ditetapkan realistis sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimiliki dan dapat dicapai. 

Cara yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam menyusun rencana aksi lingkungan adalah:
  • Penyusunan rencana aksi berangkat dari hasil kajian lingkungan yang telah dilakukan.
  • Pilihlah topik yang sesuai dengan prioritas kebutuhan sekolah dengan mempertimbangkan kemampuan dan tenggang waktu yang dimiliki (misalnya, sekolah ingin mengatasi permasalaha sampah sebagai kegiatan utama, maka semua sumber daya yang dimiliki sekolah diarahkan untuk mengatasi permasalahan tersebut).
  • Jika ada bagian yang tidak mampu diselesaikan oleh sekolah, maka perlu dicari cara bagaimana sekolah bekerja sama dengan pihak lain agar dapat mengatasinya (misalnya bekerja sama dengan dinas kebersihan untuk mengangkut sampah ke TPA).
  • Tetapkan siapa yang akan menjadi penanggung jawab setiap kegiatan (sedapat mungkin kegiatan harus melibatkan siswa).
  • Lakukan perencanaan terhadap alokasi dana yang dibelanjakan untuk setiap aktivitas yang dilakukan.

Rencana aksi lingkungan harus dideskripsikan ke dalam 4 komponen program Adiwiyata, yaitu komponen kebijakan, kurikulum, kegiatan partisipatif, dan sarana prasarana. Rencana aksi lingkungan inilah yang disebut sebagai program Adiwiyata.

4. Pelaksanaan Aksi Lingkungan
Setelah rencana aksi lingkungan tersusun dan didokumentasikan oleh sekolah, langkah selanjutnya adalah melakukan rencana aksi lingkungan. Pelaksanaan aksi lingkungan yang dilaksanakan sekolah mengacu pada 4 komponen program Adiwiyata, yaitu komponen kebijakan, kurikulum, kegiatan partisipatif, dan sarana prasarana.

Pelaksanaan aksi lingkungan harus dapat dibuktikan dengan dokumen otentik yang sah, seperti bukti perencanaan program, bukti daftar hadir dan berita acara, bukti silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, bukti akta kerjasama (Memorandum of Understanding), bukti hasil kegiatan siswa, bukti-bukti lain yang mendukung seperti foto, leaflet, dan sebagainya.

Khusus untuk sekolah Adiwiyata yang akan menuju Adiwiyata Mandiri di samping bukti otentik tersebut, harus juga dilengkapi dengan bukti otentik tentang akta kerjasama dan laporan kemajuan (progres report) dari hasil pembinaan/pengimbasan kepada 10 (sepuluh) sekolah lain yang menjadi kewenangannya.

5. Evaluasi dan Monitoring
Pada prinsipnya, evaluasi dan monitoring dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah tim Adiwiyata sekolah berhasil mencapai target yang tercantum dalam Rencana Aksi Lingkungan atau tidak, maka harus dilakukan pemantauan untuk mengukur kemajuan yang diharapkan. Proses evaluasi dan monitoring yang dilakukan terus menerus akan membantu untuk memastikan bahwa kegiatan ini tetap berkelanjutan. Pelaksanan evaluasi dan monitoring dapat dilakukan sendiri oleh pihak sekolah yang terbagi ke dalam evaluasi dan monitoring ketercapaian rencana aksi lingkungan dan evaluasi dan monitoring untuk mendapatkan penghargaan Adiwiyata.

Evaluasi dan monitoring untuk ketercapaian rencana aksi lingkungan yang dapat dilaksanakan oleh sekolah dengan menggunakan kuesioner dan survei untuk mengumpulkan data kemajuan kegiatan dengan melibatkan siswa dalam bentuk antara lain:
  • Melakukan pembacaan meter dan perhitungan tagihan energi untuk melihat perubahan kegiatan penghematan energi.
  • Menimbang sampah yang terkumpul untuk didaur ulang. Penimbangan ini dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh kegiatan pengelolaan sampah.
  • Mendokumentasikan setiap tahap kegiatan (sebelum, selama, dan setelah) dalam bentuk foto-foto untuk membandingkan perubahan yang terjadi di sekolah.
  • Membuat daftar spesies (jika memungkinkan) sebelum dan setelah kegiatan untuk melihat pengaruh untuk menujukkan dampak kegiatan terhadap keanekaragaman hayati di sekitar sekolah.

Bukti-bukti fisik dalam kegiatan ini akan sangat membantu dalam evaluasi dan monitoring untuk mendapatkan penghargaan Adiwiyata.