Friday, July 15, 2022

Contoh Format Daftar Nilai Kurikulum Merdeka Untuk SD, SMP, SMA, dan SMK


Pengolahan hasil asesmen dilakukan dengan  menganalisis secara kuantitatif dan/atau kualitatif terhadap hasil asesmen. Hasil asesmen untuk setiap Tujuan Pembelajaran melalui data kualitatif (hasil amatan atau rubrik) maupun data kuantitatif (berupa angka). Data-data ini diperoleh dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, baik pada capaian pembelajaran di akhir fase, maupun tujuan-tujuan pembelajaran turunannya. 

Asemen sumatif dilaksanakan secara periodik setiap selesai satu atau lebih tujuan pembelajaran. Hasil asesmen perlu diolah menjadi capaian dari tujuan pembelajaran setiap peserta didik. Pendidik dapat menggunakan data kualitatif sebagai hasil asesmen tujuan pembelajaran peserta didik. Namun, dapat juga menggunakan data kuantitatif dan mendeskripsikannya secara kualitatif. Pendidik diberi keluluasaan untuk mengolah data kuantitatif, baik secara rerata maupun proporsional.

Mengolah Capaian Tujuan Pembelajaran Menjadi Nilai Akhir

Capaian tujuan pembelajaran peserta didik menjadi bahan yang diolah menjadi nilai akhir mata pelajaran dalam kurun waktu pelaporan (biasanya satu semester). Untuk mendapatkan nilai akhir mata pelajaran tersebut, data kuantitatif langsung diolah, sedangkan untuk deskripsi, pendidik dapat memberikan penjelasan mengenai kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik, mana kompetensi yang belum dikuasai, dan dapat ditambahkan tindak lanjut secara ringkas bila ada.

Penting untuk diperhatikan bahwa pendidik tidak mencampur perhitungan dari hasil asesmen formatif dan sumatif karena asesmen formatif dan sumatif memiliki fungsi yang berbeda. Asesmen formatif bertujuan untuk memberikan umpan balik pada proses sehingga asesmen formatif bukan menjadi penentu atau pembagi nilai akhir. 

Dalam mengolah dan menentukan hasil akhir asesmen sumatif, pendidik perlu membagi asesmennya ke dalam beberapa kegiatan asesmen sumatif agar peserta didik dapat menyelesaikan asesmen sumatifnya dalam kondisi optimal (tidak terburu-buru atau tidak terlalu padat). Untuk situasi ini, nilai akhir merupakan gabungan dari beberapa kegiatan asesmen tersebut. 

Untuk meringkas pengolahan nilai rapor berupa data kuantitatif biasanya pendidik membuat daftar nilai. Nah, berikut ini guruberto.com bagikan contoh format daftar nilai Kurikulum Merdeka untuk SD, SMP, SMA, dan SMK.


Catatan:
  • TP adalah singkatan dari Tujuan Pembelajaran
  • Sumatif 1, sumatif 2, sumatif 3, sumatif 4, ..., sumatif n merupakan data sumatif pada akhir lingkup materi
  • Nilai rapor diperoleh dari Nilai akhir sumatif lingkup materi dan sumatif akhir semester
  • Pembobotan dalam penghitungan nilai rapor ditetapkan oleh satuan pendidikan

Thursday, July 14, 2022

Memahami P5 dalam Kurikulum Merdeka


Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila disingkat P5 dalam Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu dalam mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila

Berdasarkan Kemendikbudristek No.56/M/2022, projek penguatan profil pelajar Pancasila, merupakan
  • Kegiatan kokurikuler berbasis projek 
  • Dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila
  • Pelaksanaanya dilakukan secara fleksibel, dari segi muatan, kegiatan, dan waktu pelaksanaan.
  • Dirancang terpisah dari intrakurikulwer (Tujuan, muatan, dan kagiatan pembelajaran projek profil tidak harus dikaitkan dengan tujuan dan materi pelajaran intrakurikuler)
  • Satuan pendidikan dapat melibatkan masyarakat dan/atau dunia kerja untuk merancang dan menyelenggarakan projek penguatan profil pelajar Pancasila.
Pendidik dapat tetap melaksanakan pembelajaran berbasis projek di kegiatan mata pelajaran (intrakurikuler). Pembelajaran berbasis projek di intrakurikuler bertujuan mencapai Capaian Pembelajaran (CP), sementara projek penguatan profil pelajar Pancasila bertujuan mencapai kompetensi profil pelajar Pancasila.

Identifkasi awal kesiapan satuan pendidikan dalam menjalankan projek penguatan profil pelajar Pancasila didasarkan pada kemampuan satuan pendidikan dalam menerapkan pembelajaran berbasis projek (project based learning). Pembelajaran berbasis projek adalah pendekatan kelas yang dinamis di mana peserta didik secara aktif mengeksplorasi masalah dan tantangan dunia nyata untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam (Edutopia).

 
Pembelajaran berbasis projek bukan hanya kegiatan kegiatan membuat produk atau karya, namun kegiatan yang mendasarkan seluruh rangkaian aktivitasnya pada sebuah persoalan yang kontekstual. Oleh karenanya, pembelajaran berbasis projek biasanya mencakup  beragam aktivitas yang tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek.

Tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Kemendikbudristek menentukan tema untuk setiap projek profil yang diimplementasikan di satuan pendidikan. Dimulai pada tahun ajaran 2021/2022, terdapat empat tema untuk jenjang PAUD dan delapan tema untuk SD - SMK dan sederajat yang dikembangkan berdasarkan isu prioritas dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035, Suistenable Development Goals, dan dokumen lain yang relevan. 

Tema-tema utama projek penguatan profil pelajar Pancasila yang dapat dipilih oleh satuan PAUD adalah sebagai berikut:
  • Aku Sayang Bumi "Gaya Hidup Berkelanjutan", contoh kontekstualisasi tema: eksplorasi penyebab banjir di sekitar, membuat dan menghias tempat samp[ah dari barang bekas, dan membuat karya seni dari bahan alam.
  • Aku Cinta Indonesia "Kearifan Lokal", contoh kontekstualisasi tema: eksplorasi budaya nuasantara dengan kunjungan ke museum budaya setempat.
  • Kita Semua Bersaudara "Bhinneka Tunggal Ika", contoh kontekstualisasi tema: membuat "minggu bertukar bekal" di mana peserta didik membawa bekal, menceritakan dan menghargai makanan yang biasa dimakan di rumah masing-masing.
  • Imajinasi dan Kreativitasku "Rekayasa dan Teknologi", contoh kontektualisasi tema: eksplorasi cara membuat kendaraan bersayap lalu bermain perang dengan terbang dengan kendaraan tersebut. 
Tema Projek Profil SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK dan sederajat
Tema-tema utama projek penguatan profil pelajar Pancasila yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Gaya Hidup Berkelanjutan
Contoh kontekstualisasi tema:
  • Jakarta: situasi banjir
  • Kalimantan : hutan sebagai paru-paru dunia
  • Daerah pedesaan: pemanfaatn sampah organik
2. Kearifan Lokasl
Contoh kontekstualisasi tema:
  • Jawa Barat: sistem masyarakat di Kampung Naga
  • Papua: sistem masyarakat di Lembah Baliem
  • SMK tata kecantikan: eksplorasi seni pranata acara adat Jawa
3. Bhinneka Tunggal Ika
Contoh eksplorasi tema: menangkap isu-sisu atau masalah keberagaman di lingkungan sekitardan mengeksplorasi pemecahannya

4. Bangunlah Jiwa dan Raganya
Contoh kontekstualisasi tema: mencari solusi untuk masalah cyber bullying yang marak di kalangan remaja. Jenjang SMPLB/SMALB: pengembangan kemandirian dalam merawat diri dan menjaga kesehatan. 

5. Suara Demokrasi
Contoh kontekstualisasi tema: sistem musyawarah yang dilakukan masyarakat adat tertentu untuk memilih kepala desa.

6. Rekayasa dan Teknologi
Contoh kontekstualisasi tema: membuat desain inovatif sederhana yang menerapkan teknologi untuk menjawab permasalah di sekita satuan pendidikan.

7. Kewirausahaan
Contoh kontekstualisasi tema: membuat produk dengan konten lokal yang memiliki daya jual.

8. Keberkerjaan
Contoh kontekstualisasi tema:
  • Lampung: eksplorasi pengembangan serat tekstil dari limbah daun nanas
  • Kawasan industri sekitar Jakarta: budidaya dan pengolahan tanaman lokal Betawi

Dalam 1 tahun ajaran, peserta didik mengikuti projek penguatan profil pelajar Pancasila yang dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
  • PAUD, 1 s.d.2 projek profil dengan tema yang berbeda
  • SD, 2 s.d.3 projek profil dengan tema yang berbeda
  • SMP, 3 s.d.4 projek profil dengan tema yang berbeda
  • SMA kelas X, 3 s.d.4 projek profil dengan tema yang berbeda
  • SMA kelas XI dan XII, 2 s.d.3 projek profil dengan tema yang berbeda
  • SMK kelas X, 3 projek profil dengan 2 tema pilihan dan 1 tema Kebekerjaan
  • SMK kelas XI, 2 projek profil dengan 1 tema pilihan dan 1 tema Kebekrejaan
  • SMK kelas XI, 1 projek profil dengan  tema Kebekerjaan
  • SPK, 2 s.d.3 projek profil dengan tema yang berbeda

Menyusun Modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Modul projek penguatan profil pelajar Panacsila merupakan dokumen yang berisi tujuan, langkah, media pembelajaran, dan asesmen yang dibutuhkan untuk melaksanakan projek penguatan profil pelajar Pancasila. 

Pendidik memmiliki keleluasaan untuk membuat sendiri, memilih, memodifikasi modul projek profil yang tersedia sesuai dengan konteks, karaktereistik, serta kebutuhan peserta didik. Pemerintah juga menyediakan beraga contoh modul projek profil dari berbagai fase dan tema yang berbeda untuk membantu pendidik yang membutuhkan referensi atau inspirasi dalam perenacanaan projek profil. Referensi yang diperlukan tersedia di Platform Merdeka Mengajar

Modul projek profil dilengkapi dengan komponen yang menjadi dasar dalam proses penyusunannya serta dibutuhkan untuk keelngkapan pelaksanaan pembelajaran. Modul projek profil pada dasarnya memiliki komponen sebagai beriku:
1. Profil Modul
  • Tema dan topik atau judul modul
  • Fase atau jenjang sasaran
  • Durasi kegiatan
2. Tujuan
  • Pemetaan dimensi, elemen, sub elemen Profil Pelajar Pancasila yang menjadi tujuan projek profil
  • Rubrik pencapaian berisi rumusan kompetensi yang sesuai dengan fase peserta didik (Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah)
3. Aktivitas
  • Alur aktivitas projek profil secara umum
  • Penjelasan detail tahapan kegiatan dan asesmennya
4. Asesmen, instrumen pengolahan hasil asesmen untuk menyimpulkan pencapaian projek profil. 

Wednesday, July 13, 2022

Memahami Kemerdekaan dalam Kurikulum Merdeka


Kurikulum Merdeka, apa dan siapa yang merdeka? Ada 2 (dua) konsep kunci dalam Kurikulum Merdeka, pertama merdeka belajar untuk peserta didik. Kedua, merdeka mengajar untuk para pendidik. 

Konsep Merdeka Mengajar dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ini merupakan gagasan Ki Hadjar Dewantara, yaitu gagasan pendidikan yang didasarkan pada asas kemerdekaan. 

Mari kita menilik konsep Merdeka Belajar menurut Ki Hadjar Dewantara, kemerdekaan dalam pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara bermakna tidak hidup terperintah, berdiri tegak karena kekuatan sendiri dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib.

Merdeka Belajar
Merdeka Belajar bukan berarti merdeka dari belajar, bebas belajar atau tidak, dan bebas mengerjakan tugas atau tidak. Merdeka Belajar bermakna: 
  1. Belajar perlu melibatkan siswa dalam menentukan tujuan,
  2. Memberi pilihan cara dan 
  3. Melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar siswa.
Merdeka Belajar menekankan bahwa kendali belajar sejatinya bukan lagi pada pendidik tetapi pada peserta didik itu sendiri. Belajar itu milik peserta didik dan pendidik sepatutnya melibatkan peserta didik dalam mengatur jalannya proses pembelajaran. 

Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, seorang pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kodrat yang ada pada diri anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya). Singkat kata, pendidik berperan untuk menggali, menunyun, serta mengembangkan bakat dan minat peserta didik, bukan mengubah apa yang peserta didik minati. 

Layaknya bunga, setiap bunga adalah indah. Teratai pada media air, mawar di cuaca panas dan kaktus di daerah kering. Berikanlah media dan pupuk yang sesuai kemudian tanam dan rawatlah. Kelak mereka akan tumbuh dan berkembang istimewa dengan ciri khas dan keunikannya masing-masing.

Pendidik harus mengenali karakteristik anak didiknya. Bahwa setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Maka mereka harus diperlakukan secara berbeda pula.

Merdeka Mengajar
Merdeka Mengajar bukan berarti pendidik diberi kebebasan dalam proses pembelajaran. Akan tetapi sekolah, pendidik, dan peserta didik memiliki kebebasan dalam berinovasi dan bertindak dalam proses pembelajaran. Ini berarti proses pembelajaran tidak bersifat monoton dan pendidik mempunyai kebebasan melakukan berbagai variasi dalam proses pembelajaran. 

Dalam Merdeka Mengajar, pendidik tidak hanya mengajar tetapi melakukan refleksi untuk mengukur sejauh mana capaian pembelajarannya, apakah relatif tercapai atau tidak. 

Refleksi menjadi bagian proses pembelajaran yang terus menerus (continous learning) bagi pendidik. Dengan melakukan refleksi, pendidik dapat melihat permasalahan, situasi, dan kondisi pembelajaran dari berbagai perspektif sehingga dapat melakukan inovasi-inovasi kecil yang bermanfata dalam upaya mencerahkan proses pembelajaran. 

Artikel ini merupakan Aksi Nyata: Menyebarkan Pemahaman Merdeka Belajar dalam Pelatihan Mandiri di Platform Merdeka Mengajar

Tuesday, July 12, 2022

Memahami Asesmen di Awal Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka


Ada dua tahapan penting yang harus dilakukan sebelum Bapak dan Ibu Guru mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran di kelas: pertama, asesmen di awal pembelajaran. Tujuannya untuk mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, hal apa yang harus ditingkatkan, sehingga kegiatan pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan kompetensi dan kondisi peserta didik. Hasil asesmen ini akan digunakan sekolah dan pendidik sebagai rujukan dalam merencanakan pembelajaran sesuai tahap capaian dan karakteristik peserta terlebih di tengah memasuki kegiatan di tahun ajaran barau. 

Kedua, pembelajaran terdiferensiasi untuk memastikan pembelajaran yang seusai dengan kebutuhan murid. 

Asesmen di awal pembelajaran
Asesmen di awal pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui kesiapan peserta didik untuk mempelajari materi  ajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan. Asesmen ini termasuk dalam kategori asesmen formatif karena ditujukan untuk kebutuhan guru dalam merancang pembelajaran, tidak untuk keperluan penilaian hasil belajar peserta didik yang dilaporkan dalam rapor.


Salah satu asesmen berdasarkan waktu asesmen yang dilakukan di awal pembelajaran adalah asesmen diagnostik. Tujuan asesmen diagnostik adalah mendiagnosis kemampuan dasar peserta didik dan mengetahui kondisi awal peserta didik. Ada dua asesmen diagnostik, yaitu:
  • kognitif
  • non-kognitif
Asesmen diagnosis non-kognitif
Asesmen diagnosis non-kognitif adalah mencakup diagnosis dengan latar belakang peserta didik, seperti aktivitas belajar peserta didik selama belajar di rumah, kondisi keluarga, gaya belajar, minat hingga kesejahteraan psikologis dan emosional peserta didik. 

Apa saja yang dilakukan pendidik dalam kegiatan asesmen diagnosis non kognitif? 
Persiapan 
1. Siapkan alat bantu berupa gambar ekspresi emosi
2. Buat daftar pertanyaan kunci, seperti: 
  • Apa saja kegiatan yang kamu lakukan selama Belajar dari Rumah?
  • Hal apa yang paling menyenangkan dan tidak menyenangkan?
  • Apa harapan kamu
Pelaksanaan
1. Berikan gambar emosi ke peserta didik
2. Minta peserta didik mengekspresikan perasaannya selama belajar di rumah, dengan bercerita, membuat tulisan atau menggambar.

Tindak Lanjut
1. Identifikasi peserta didik dengan ekspresi emosi negatif dan ajak berdiskusi empat mata.
2. Menentukan tindak lanjut dan mengkomunikasikan dengan peserta didik serta orang tua bila diperlukan.
3. Ulangi pelaksanaan asesmen non-kognitif pada awal pembelajaran.


Asesmen Kognitif
Tujuan asesmen kognitif untuk mengetahui capaian kompetensi peserta didik, menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata peserta didik, dan memberikan kelas remedial atau pelajaran tambahan kepada peserta didik yang kompetensinya di bawah rata-rata.

Persiapan
1. Buat jadwal pelaksanaan asesmen
2. Identifikasi materi asesmen berdasarkan penyederhanaan kompetensi dasar yang disediakan oleh pemeritah.
3. Susun pertanyaan sederhana yang meliputi:
  • 2 pertanyaan sesuai kelasnya, dengan topik capaian pembelajaran baru
  • 6 pertanyaan dengan topik satu kelas di bawah
  • 2 pertanyaan dengan topik dua kelas di bawah

Pelaksanaan
Berikan asesmen untuk semua peserta didik di kelas, baik yang belajar tatap muka di sekolah maupun yang belajar di rumah. 

Tindak Lanjut
1. Lakukan pengolaha hasil asesmen
  • Buat penilaian dengan kategori "Paham utuh", "Paham sebagian", dan "Tidak paham"
  • Hitung rata-rata kelas
2. Bagi peserta didik menjadi tiga kelompok:
  • Peserta didik dengan nilai rata-rata kelas akan mengikuti pembelajaran dengan alur tujuan pembelajaran sesuai fasenya.
  • Peserta didik dengan nilai di bawah rata-rata mengikuti pembelajaran dengan diberikan pendampingan pada kompetensi yang belum terpenuhi.
  • Peserta didik dengan nilai di atas rata-rata mengikuti pembelajaran dengan pengayaan.
3. Lakukan penilaian pembelajaran topik yang sudah diajarkan sebelum memulai topik pembelajaran baru, untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan rata-rata kemampuan siswa.
4. Ulangi proses diagnosis ini dengan melakukan asesmen formatif (dengan bentuk dan strategi yang variatif), sampai peserta didik mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan. 

Monday, July 11, 2022

Memahami Teknik Penilaian dalam Kurikulum Merdeka


Di Kurikulum Merdeka, apabila pendidik menggunakan modul ajar yang disediakan oleh pemerintah, maka ia tidak perlu membuat perencanaan asesmen. Namun, bagi pendidik yang mengembangkan sendiri rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan/atau modul ajar, ia perlu merencanakan asesmen formatif yang digunakan.


Merencanakan asesmen
  • Rencana asesmen dimulai dengan perumusan tujuan asesmen. Tujuan ini tentu berkaitan erat dengan tujuan pembelajaran.
  • Setelah tujuan dirumuskan, pendidik memilih dan atau mengembangkan instrumen sesuai tujuan. Beberapahal yang perlu diperhatikan dalam memilih/mengembangkan instrumen antara lain: karakteristik peserta didik, kesesuaian asesmen dengan rencana/tujuan pembelajaran dan tujuan asesmen, kemudahan penggunaan instrumen untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik dan pendidik. 
Berikut adalah contoh instrumen penilaian atau asesmen yang dapat menjadi inspirasi bagi pendidik
Rubrik
Pedoman yang dibuat untuk menilai dan mengevaluasi kualitas capaian kinerja peserta didik sehingga pendidik dapat menyediakan bantuan yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja. Rubrik juga dapat digunakan oleh pendidik untuk memusatkan perhatian pada kompetensi yang harus dikuasai. Capaian kinerja dituangkan dalam bentuk kriteria atau dimensi yang akan dinilai yang dibuat secara bertingkat dari kurang sampai terbaik.

Ceklis
Daftar informasi, data, ciri-ciri, karakteristik, atau elemen yang dituju.

Catatan Anekdotal
Catatn singkat hasil oberservasi yang difokuskan pada performa dan perilaku yang menonjol, disertai latar belakang kejadian dan hasil analisis atas observasi yang dilakukan. 

Grafik Perkembangan (Kontinum)
Grafik atau infografik yang menggambarkan tahap perkembangan belajar. 

Instrumen asesmen dapat dikembangkan berdasarkan teknik penilaian yang digunakan oleh pendidik. di bawah ini diuraikan contoh teknik penilaian yang dapat diadaptasi, yaitu:
Observasi
Penilaian peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan melalui pengamatan perilaku yang diamati secara berkala. Oberservasi dapat difokuskan untuk semua peserta didik atau per individu. Obersvasi dapat dilakukan dalam tugas atau aktivitas rutin/harian. 

Kinerja Penilaian
Penilaian yang menuntut peserta didik untuk mendemosntrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Asesmen kinerja dapat berupa praktik, menghasilkan produk, melakukan proyek, atau membuat portofolio.

Proyek
Kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. 

Tes Tertulis
Tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta didik. Tes tertulis dapat berbentuk esai, pilihan ganda, uraian, atau bentuk-bentuk tes tertulis lainnya.

Tes Lisan
Pemberian soal/pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal ketika pembelajaran.

Penugasan
Pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan dan memfasilitasi peserta didik memperoleh atau meningkatkan pengetahuan.

Portofolio
Kumpulan dokumen hasil penilaian, penghargaan, dan karya peserta didik dalam bidang tertentu yang mencerminkan perkembangan (reflektif-integratif) dalam kurun waktu tertentu.


Friday, July 8, 2022

Memahami Diferensiasi Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka


Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya pengembangan strategi pembelajaran sesuai dengan tahap capaian belajar peserta didik atau yang dikenal dengan teaching at the right level (TaRL). Pembelajaran dilakukan denga memberikan materi pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan pemahaman peserta didik. Tujuan dari diferensiasi ini adalah agar setiap anak dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. 

Menurut Tomlinson (2001:45), pembelajaran berdiferensiasi adalah menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebetuhan belajar individu setiap peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi ini, bukanlah pembelajaran baru karena telah dilaksanakan sejak dahulu, namun pelaksanaannya pemetaan kebutuhan murid tidak terlalu ditampakkan.


Tujuan umum dari pembelajaran berdiferensiasi ini, yang terpenting adalah murid dan gruu membuat kemajuan dari titik awal masing-masing. Sementara itu, tujuan khususnya untuk setiap murid adalah pertumbuhan maksimal dari proses belajar mereka saat ini, dan untuk guru adalah semakin memahami tentang posisi belajar tersebut sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.

Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru terlebih dahulu memetakan kebutuhan belajar murid yaitu minat murid, kesiapan belajar murid, dan profil belajar murid, melalui asesmen yang dilakukan di awal pembelajaran. Kemudian diharapkan dapat menggunakan berbagai pendekatan belajar sehingga sebagian besar murid menemukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Dalam proses pembelajaran, salah satu diferensiasi yang dapat dilakukan pendidik adalah diferensiasi berdasarkan konten/materi, proses, dan/atau produk. 

Konten (materi yang akan diajarkan)
Bagi peserta didik yang memerlukan bimbingan dapat mempelajari 3 (tiga) hal terpenting terkait materi, bagi peserta didik yang cukup mahir dapat mempelajari keseluruhan materi dan bagi peserta didik yang sudah sangat mahir dapat diberikan pengayaan. 

Proses (cara mengajarkan)
Proses pembelajaran dan bentuk pendampingan dapat didiferensiasi sesuai kesiapan peserta didik, bagi peserta didik yang membutuhkan bimbingan pendidik perlu mengajarkan secara langsung, bagi peserta didik yang cukup mahir dapat diawali dengan Modelling yang dikombinasi dengan kerja mandiri, praktik, dan peninjauan ulang (review), bagi peserta didik yang sangat mahir dapat diberikan beberapa pemantik untuk tugas mandiri kepada peserta didik.

Produk (luaran atau performa yang akan dihasilkan)
Diferensiasi pembelajaran juga dapat melalui produk yang dihasilkan. Contohnya, bagi peserta didik yang memerlukan bimbingan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai konten inti materi, sedangkan bagi peserta didik yang cukup mahir dapat membuat presentasi yang menjelaskan peyelesaian masalah sederhana, dan bagi peserta yang sangat mahir bisa membuat sebuah inovasi atau menelaah permasalahan yang lebih kompleks

Sebagai contoh ketika mengajarkan materi tertentu, peserta didik yang perlu bimbingan dapat difokuskan pada 3 (tiga) poin penting saja, sementara untuk peserta didik yang sudah cukup memahami materi dapat mempelajari seluruh topik; dan peserta didik yang mahir dapat melakukan pendalaman materi di luar materi yang diajarkan. Begitu juga dengan tagihan atau produk, peserta didik yang perlu bimbingan dapat bekerja kelompok dengan mengumpulkan satu lembar hasil kerja, sementara untuk peserta didik yang cukup mahir dapat mengumpulkan 5 (lima) lembar hasil kerja mandiri, dan peserta didik yang sudah mahir dapat mempresentasikan hasil kerja meggunakan power point dengan dilengkapi gambar dan grafis. 

Diferensiasi tidak berarti bahwa guru harus dapat memenuhi kebutuhan murid setiap saat atau setiap waktu. Guru dapat memulai melakukan diferensiasi pembelajaran (konten/materi, proses, dan/atau produk) dengan kecepatan yang nyaman bagi guru. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun oleh guru, tidak menutup kemungkinan dalam pelaksanannya terdapat hasil atau kondisi yang berbeda, hal ini dapat disebabkan karena kemampuan atau kebutuhan setiap peserta didik itu berbeeda. Oleh karena, itu, seorang pendidik harus selalu bisa melakukan evaluasi, umpan balik dan refleksi. 

Dalam pelaksanaan proses diferensiasi pembelajaran, pendidik tidak diperbolehkan untuk menuntut seua muri memiliki kemampuan yang sama. Keberhasilan pembelajaran ini dapat terlihat jika sudah ada kemajuan dalam diri setiap peserta didik sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Adapun untuk memenuhi ketercapaian kebutuha  murid perlu dilakukan pembinaan individu dan melakukan komunikasi efektif dengan orang tua peserta didik. 

Thursday, July 7, 2022

Memahami Modul Ajar dan RPP dalam Kurikulum Merdeka


Di Kurikulum Merdeka, setiap pendidik perlu memiliki rencana pembelajaran untuk membantu mengarahkan proses pembelajaran mencapai Capaian Pembelajaran (CP). Rencana pembelajaran ini dapat berupa:
  1. rencana pelaksanaan pembelajaran atau yang dikenal sebagai RPP atau
  2. dalam bentuk modul ajar.
Modul Ajar disingkat MA merupakan satu perangkat ajar yang digunakan untuk merencanakan pembelajaran. Modul ajar sama seperti RPP, namun modul ajar memiliki komponen yang lebih lengkap.

Apabila pendidik menggunakan modul ajar, maka ia tidak perlu membuat RPP karena komponen-komponen dalam modul ajar meliputi komponen-komponen dalam RPP atau lebih lengkap daripada RPP. Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan antara komponen minimum RPP dan modul ajar, berikut perbedaan antara komponen dalam rencana pelaksanaan pembelajaran dan modul ajar.

Komponen minimum dalam rencana pelaksanaan pembelajaran
  • Tujuan pembelajaran (salah satu dari tujuan dalam alur tujuan pembelajaran)
  • Langkah-langkah atau kegiatan pembelajaran. Biasanya untuk satu atau lebih pertemuan.
  • Asesmen pembelajaran : Rencana asesmen untuk di awal pembelajaran dan rencana asesmen di akhir pembelajaran untuk mengecek ketercapaian tujuan pembelajaran.
Komponen minimum dalam modul ajar
  • Tujuan pembelajaran (salah satu dari tujuan dalam alur tujuan pembelajaran)
  • Langkah-langkah atau kegiatan pembelajaran. Biasanya untuk satu tujuan pembelajaran yangd dicapai dalam satu atau lebih pertemuan.
  • Rencana asesmen untuk di awal pembelajaran serta instrumen dan cara penilaiannya.
  • Rencana asesmen di akhir pembelajaran untuk mengecek ketercapaian tujuan pembelajaran beserta instrumen dan cara penilaiannya.
  • Media pembelajaran yang digunakan termasuk, misalnya bahan bacaan yang digunakan, lembar kegiatan, video, atau tautan situs web yang perlu dipelajari peserta didik. 


Terlihat bahwa komponen yang harus ada (komponen minimum) dalam rencana pelaksanaan pembelajaran lebih sederhana, fokus mendemonstrasikan rencana. Sedangkan dalam modul ajar, perencanaan dilengkapi dengan media yang digunakan termasuk juga instrumen asesmennya. Oleh karena itu modul ajar lebih lengkap daripada rencana pelaksanaan pembelajaran, maka pendidik yang menggunakan modul ajar untuk mencapai satu atau lebih tujuan pembelajaran tidak perlu lagi mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran. 

Modul ajar sekurang-kurangnya berisi tujuan, langkah, media pembelajaran, asesmen, serta informasi dan referensi belajar lainnya yang dapat membantu pendidik dalam melaksankan pembelajaran. Satu modul ajar biasanya berisi rancangan pembelajaran untuk satu tujuan pembelajaran berdasarkan alur tujuan pembelajaran yang telah disusun. 

Adapun komponen modul ajar versi lengkap terdiri dari 18 komponen yaitu:
Informasi umum
  • Identitas penulis modul
  • Kompetensi awal
  • Profil Pelajar Pancasila
  • Sarana dan Prasarana
  • Target peserta didik
  • Model pembelajaran yang digunakan
Komponen Inti
  • Tujuan pembelajaran
  • Asesmen
  • Pemahaman bermakna
  • Pertanyaan pemantik
  • Kegiatan pembelajaran
  • Refleksi peserta didik dan pendidik
Lampiran
  • Lembar kerja peserta didik
  • Pengayaan dan remedial
  • Bahan bacaan pendidik dan peserta didik
  • Glosarium
  • Daftar pustaka. 

Apa yang baru dari modul ajar? Setidaknya ada dua komponen baru dalam modul ajar, yaitu pemahaman bermakna dan pertanyaan pemantik. Pemahaman bermakna mencerminkan jawaban atas pertanyaan pemantik, merupakan pemahaman yang kita ingin murid-murid capai setelah mempelajari topik tertentu.  

Sementara, pertanyaan pemantik adalah rangkaian pertanyaan mengenai hal paling penting dalam suatu topik pembelajaran. Pertanyaan ini diturunkan dari pemahaman bermakna dan didiskusikan bersama murid-murid sebelum memulai topik. Pertanyaan pemantik ini digunakan untuk membantu murid mencapai pemahaman bermakna. 

Pemerintah menyediakan contoh-contoh rencana pelaksanaan pembelajaran dan modul ajar. Pendidik dapat menggunakan dan/atau menyesuaikan contoh-contoh tersebut dengan kebutuhan peserta didik. untuk pendidik yang merancang rencana pelaksanaan pembelajarannya sendiri, maka komponen minimumnya harus termuat, dan dapat ditambahkan dengan komponen lainnya sesuai dengan kebutuhan pendidik, peserta didik, dan kebijakan satuan pendidikan.