Friday, June 18, 2021

Tips Menjadi Guru yang Selalu Dikagumi dan Dikenang Muridnya

Ilustrasi Bu Muslimah (layar.id)

Kalau baca novel Laskar Pelangi atau menonton filmya, pasti kenal dengan Bu Muslimah. Dialah Ibu Guru yang begitu diagungkan oleh Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi. Iya, karena Bu Muslimah adalah seorang guru yang patut dikagumi dan dikenang karena kebaikannya. Karena cara mengajarnya. Karena pribadinya patut diteladani. Karena dia begitu mencintai murid-muridnya. Dan akhirnya, murid-muridnya begitu begitu mencintai dia.

Pada prinsipnya, seorang guru bukanlah hanya bisa mentransfer pengetahuan yang dimilikinya saja. Mengajar di depan kelas, ketika bel pulang sekolah  berbunyi dia sudah melupakan para muridnya. Seorang guru, bukanlah hanya memberikan PR yang bertumpuk kepada para murid, supaya para murid mengulang apa dia ajarkan. Seorang guru yang baik, bukanlah apabila muridnya mendapatkan nilai tinggi untuk mata pelajaran yang diampunya.

Memahami Muridnya
Guru harus menyadari bahwa murid adalah anak yang ingin tumbuh berkembang, mereka butuh diarahkan potensinya, oleh karena itu guru haru memahami karakter peserta didiknya, apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka inginkan agar cita-cita mimpi mereka dapat tercapai.

Guru baik Vs Guru yang Galak
Di sebuah sekolah, para murid memberi label 'guru baik' dan 'guru yang galak'. Guru baik adalah guru yang disenangi. Sementara itu, guru yang galak dan menakutkan adalah guru yang senang menghukum murid kendali kesalahan "kecil".

Murid yang ketahuan ngantuk atau nguap di kelas karena sudah siang, perut lapar dan pelajaran tak menarik, langsung dilempar dengan penghapus atau sanksi lainnya.

Relasi murid dan guru yang galak didasarkan pada rasa takut. Kalau guru yang galak memberi perintah,para murid pasti berusaha mati-matian karena takut dimarahi.

Dari pada tangan kanannya melayang, lebih baik perintahnya dituruti saja. Guru yang galak dan menakutkan selalu dihindari siswa.

Guru yang disenangi selalu dicari dan perintahnya ditaati dengan sepenuh hati. Pokoknya bersamanya, serasa adem, nyaman dan penuh kasih sayang.

Tidak Pilih Kasih (Tidak Diskriminatif)
Para murid berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada anak dari seorang pejabat, ada anak seorang penggembala, ada anak dari petani dan berbagai latar yang lain. Ada murid yang cepat berpikirnya, ada pula yang sudah dijelaskan berulang kali tak paham-paham juga. Semua berbeda-beda kemampuannya. 

Menyikapi hal ini, kebijaksanaan seorang guru sangatlah dibutuhkan. Tak boleh membeda-bedakan pelayanan antara si miskin dan si kaya. Ia harus sama rata dalam mengajar. 

Mengajar juga harus penuh kesabaran. Saat ada muridnya yang begitu melelahkannya,ia tetap tak boleh merendahkan harga diri muridnya tersebut, ia juga tak boleh meruntuhkan semangat belajarnya.

Guru yang memahami muridnya, guru baik, tak pilih kasih akan dikagumi dan terus dikenang muridnya sampai kapanpun juga. Karena kesuksesan murid tergantung guru. Begitu pula murid yang baik tidak akan pernah melupakan jasa gurunya dalam mendidik dirinya.

Masih ingatkah kita siapa guru yang telah membuat anda sukses hari ini? Bagaimana nasibnya kini? Sudahkah kita mengucapkan terima kasih?

Thursday, June 17, 2021

Di Balik Kesuksesan Seorang Murid, Ada Guru yang Luar Biasa Hebat


Mantan Mendikbud Anies Baswedan pernah mengatakan: bila kita melihat alumni dari sebuah sekolah menjadi orang yang sukses dan hebat, hal ini tidak terlepas dari peran guru yang luar biasa hebat. Itu sebabnya di balik siswa yang hebat terdapat guru hebat juga.

45 hingga 50 persen kesuksesan peserta didik bergantung pada peran guru. Ini membuktikan bahwa guru sangat berperan dalam kesuksesan peserta didik. Berikut adalah alasan kenapa guru sebagai penentu keberhasilan anak.

Guru sang motivator
Kompetensi keguruan yang dimiliki guru dalam menyampaikan nilai-nilai kebajikan kepada peserta didik sangat memungkinkan untuk berperan seperti menjadi orang tua kedua bagi peserta didik dan berperan sebagai motivator. 

Peran guru sebagai motivator akaan menolong setiap peserta didik yang sedang bermasalah dan jika memungkinkan dapat memberikan solusi sehingga mereka dapat keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi.

Pentingnya peran guru sebagai motivator karena jika murid tidak bisa melakukan hal dengan baik karena dukungan seorang guru murid tersebut bisa memiliki minat untuk menjadi lebih baik lagi. Setiap motivasi atau dukungan yang diberikan guru mempengaruhi keberhasilan murid.

Guru sebagai orang tua kedua
Menekuni profesi guru dituntut untuk memiliki kompetensi keguruan. Memilih menjadi seorang guru tidak hanya berarti mengajarkan tentang materi pelajaran tetapi juga mengajarkan segala aspek, maka dari itu guru sering disebut sebagai orang tua kedua setelah orang tua yang ada di rumah.

Membimbing sepenuh hati
Guru membimbing muridnya dengan penuh kasih sayang ibarat seperti anaknya sendiri. Jika murid tersebut sukses maka tidak lain guru akan merasakan bangga terhadapnya namun jika peserta didik gagal maka guru pula merasakan gagal dalam mengajar dan mendidiknya.

Guru sebagai penasehat
Guru sebagai penasehat meskipun bukan utama keahlian seorang guru namun guru yang suka menasehati merupakan guru yang sangat peduli dengan peserta didiknya. Hal ini dikarenakan guru ingin anak-anaknya dapat tercapai cita-citanya.

Di balik kesuksesan seorang murid, ada guru yang berjasa. Profesi dokter, kyai, polisi, tentara, presiden pun dibalik kesuksesan tersebut akar dari semuanya adalah jasa seorang guru.

Jadi sudah sepatutnya kita semua jangan  pernah melupakan guru-guru yang telah berjasa terhadap apa yang sekarang kita peroleh. 

Download Aplikasi Analisis Butir Soal Pilihan Ganda dan Essay


Analisis butir soal adalah pengujian terhadap kualitas atau mutu soal sehingga diperoleh informasi tentang karakteristik soal tersebut. Analisis butir soal dibedakan menjadi dua yaitu analisis butir soal secara kualitatif dan analisis butir soal secara kuantitatif.

Pada dasarnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal. Aspek yang diperhatikan dalam penelaahan secara kualitatif meliputi aspek materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban atau pedoman pesnkorannya.

Adapun analisis butir soal secara kuantitatif adalah pengujian terhadap soal dengan cara menganalisa empirik hasil tes. Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif, yaitu pendekatan secara klasik dan modern. Selanjutnya pada postingan kali difokuskan pada analisis butir soal dngan menggunakan pendekatan klasik.

Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik yang bertujuan untuk meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. 

Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap butir ditelaah dari segi tingkat kemudahan butir, daya pembeda butir, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal pilihan ganda) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.

Sebagai seorang guru, menganalisis soal penilaian harian, soal penilaian akhir semester maupun asesmen lainnya merupakan satu kebutuhan agar kita mengetahui apakah soal-soal itu valid atau tidak sehingga dapat dipakai lagi atau tidak. Oleh karena itu, Bapak, Ibu Guru membutuhkan aplikasi yang tepat agar hasilnya anlisisnya baik. Bapak, Ibu bisa mengunduhnya di akhir postingan ini. 

Untuk membantu Bapak, Ibu melakukan kegiatan analisis butir soal, berikut Guruberto.com bagikan aplikasi analisis butir soal berbentuk pilihan ganda dan uraian (aplikasi dapat disesuaikan dengan jumlah butir soal).
  1. Analisis Butir Soal Pilihan Ganda (DOWNLOAD)
  2. Anasilis Butis Soal Uraian (DOWNLOAD)

Wednesday, June 16, 2021

Latihan Soal KSN (OSN) IPA SMP Tahun 2020 dan Pembahasan Materi Hukum Archimedes



Soal KSN (OSN) IPA SMP Tahun 2018 Nomor 36

Bayangkan sebuah bola berongga yang berkulit tebal seperti penampang melintang pada gambar. Massa bola 180,6 dan jejari rongga di dalamnya 9 cm. Bola itu diisi air sebanyak separuh volume rongga dan disumbat supaya air tidak keluar. Bola berisi air itu kemudian ditaruh di dalam air.Tampak separuh bagian bola berada di atas permukaan air.

Bola berongga yang berkulit tebal


Tebal kulit bola itu yang paling mendekati adalah .... (Gunakan rapat massa air 1 g/cm3)

A. 1,0 cm

B. 1,3 cm

C. 1,5 cm

D. 1,8 cm


Penyelesaian

Perhatikan gambar berikut!

Diagram benda bebas

Keterangan

FA = gaya apung

wa = ma g = berat air

wb = mb g = berat bola berongga

Tebal kulit bola (r) = R0 - R

Dari gambar di atas, dianggap bola berongga dalam kedaan diam sehingga berlaku hukum I Newton dan Hukum Archimedes

F = 0

Gaya apung = berat air + berat bola berongga


Hukum Archimedes berbunyi gaya apung yang bekerja pada suatu benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam suatu fluida sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda tersebut. Besarnya gaya apung dirumuskan oleh persamaan:

FA  =   wf  

FA  =  f  g Vbf

Keterangan:

FA  = gaya apung (N)

wf  = berat fluida yang dipindahkan (N)

 f  = massa jenis fluida (g/cm3)

g     = percepatan gravitasi (m/s2)

Vbf  = volume benda yang tercelup fluida (m3)


Karena hanya setengah bagian bola berongga yang tercelup dalam air (Vb) dan separuh volume rongga diisi air, maka

FA  =   ma g mb g

aVb  = a Va g + mb g

1 .  .  . (R0)3 = 1 .  .  . R3 + 180,6 

(R0)3  =  (9 cm)3 + 180,6

 (R0)3  = 486 cm3 + 180,6

(R0)3 = 999,9 cm3

R0   10 cm

Sehingga, r = R0 - R = 10 cm - 9 cm = 1 cm


Jadi, tebal kulit bola itu yang paling mendekati adalah 1 cm (A). 


Empat Kuadran Guru, di Mana Posisi Kita?

Ilustrasi guru (pexels.com/Max Fischer)

Mengawali tulisan ini, saya akan menceritakan sebuah pengandaian murid. Dalam sebuah webinar, narasumber mengajukan pertanyaan kepada para murid. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi guru yang juga sekaligus "boss in the class"?

Dengan bahasa sederhana. Sang murid mengatakan bahwa setiap guru harus menyadari dunianya murid berbeda dengan masa ketika guru menjadi murid. 

Dunia murid saat ini: murid mencari bahan belajar dari seluruh dunia melalui internet, dunia serba digital, dunia Youtube, podcast atau dunia tiktok. Bukan dunianya main perintah.

Kalaupun guru bertindak sebagai pemberi perintah. Murid harus paham untuk apa perintah itu dikerjakan. Jawabannya pun bukan tafsir tunggal tetapi memungkinkan adanya alternatif.

Lanjut, narasumber menjelaskan empat kuadran posisi seorang guru. Empat kuadran tersebut, meliputi:
  1. Mengajar. Guru berperan sebagai pengajar (educator). Pada kuadran paling rendah ini guru hanya mengajar atau sekadar mentransfer ilmu kepada murid. Guru terbiasa asyik dengan dunianya sendiri. Tidak peduli dan tidak mau tahu kondisi-kondisi muridnya. 
  2. Mendidik. Di kuadran kedua guru bukana sekadar transfer ilmu tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan sikap. Memberikan keteladanan yang baik dan benar bagaimana cara berpikir, berkeyakinan, beremosi, bersikap, dan berperilaku yang benar, baik dan terpuji baik di hadapan Tuhannya maupun dilingkungan kehidupan sehari-hari.
  3. Menginspirasi. Di posisi kuadran ini guru bisa membangkitkan imajinasi murid. Memberikan pencerahan apa yang bisa diraih murid dengan menikmati setiap kegiatan belajar mengajar.
  4. Menggerakkan. Sesudah menjadi teladan (role model) dalam perilaku dan menginspirasi dengan impian-impian. Guru harus bisa menggerakkan hati, pikiran dan raga murid untuk terus bergerak meraih mimpi dan mencapai kesuksesan.

Ssesungguhnya empat kudaran guru ini (minus kuadran pertama) bersesuaian dngan ajaran Ki Hadjar Dewantara. Di kuadran pertama hanya sekadar omongan. Hanya No Action Talk Only (NATO).

Nah, di kuadran kedua adalah pengejawantahan dari semboyan ing ngarso asung tulodho. Menanamkan karakter itu yang paling efektif melalui keteladanan dan/atau pembiasaan.

Sedangkan di kuadran ketiga, guru memberi inspirasi dan membuka belenggu impian murid. Pendidikan adalah gerbang menuju kesuksesan harus selalu didengpung-dengungkan. Ing madyo mangun karso.

Terakhir, di kuadran empat, guru sama halnya dengan semboyan tut wuri handayani. Guru mendorong agar para murid terus mengejar impian dengan belajar bermakna. Tak ada yang instan.

Saya jadi teringat dengan lagu Hymne Guru. Bahwasannya guru itu seperti pelita. Muncul pertanyaan dalam saya tentang guru dan pencerahan zaman. Di zaman yang terang benderang dengan pencahayaan listrik, apakah saya masih sekadar seperti nyala lampu teplok?

Monday, June 14, 2021

Guru adalah orang yang berani mengajar dan tidak berhenti belajar


John Cotton Dana, pustakawan Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa:  "Who dares to teach must never cease to learn"Siapa berani mengajar, harus siap tak berhenti belajar. Ungkapan dari John Cotton, menyisipkan pentingnya bagi seorang guru untuk terus belajar. 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat menuntut setiap manusia dalam bidang dan profesi apapun untuk mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Tak terkecuali profesi guru yang dikenal pekerjaan profesional. 

Oleh karena itu, guru harus senantiasa mengembangkan dirinya disetiap saat dan dimanapun. Sehingga ketika seseorang memilih menjadi seorang guru maka dia akan terus belajar sehingga kompetensinya terus semakin meningkat selama dia menjalankan tugasnya di bidang pendidikan. Konsep inilah yang dikenal dengan guru pembelajar.

Guru Pembelajar
Apa itu guru pembelajar? Pengertian guru pembelajar berdasarkan Dunne (2002) adalah guru yang mampu belajar dari cara ia bekerja (mempelajari kekurangannya), mampu memilih cara belajar yang sesuai dengan karakteristiknya dan mampu belajar dengan sesama guru di lingkungannnya.

Kemendikbud (2016) mengemukakan ada 3 (tiga) alasan mengapa seorang guru harus terus belajar selama dia berprofesi sebagai guru yaitu:
  1. Profesi guru merupakan pekerjaan profesional yang dilaksnakan berdasarkan prinsip profesionalitas memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat (long life learner).
  2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut guru harus belajar beradaptasi dengan hal-hal baru yang berlaku saat ini.
  3. Karakter peserta didik yang senantiasa berbeda dari generasi ke generasi menjadi tantangan tersendiri bagi guru.

Mengacu pada alasan tersebut, tidak ada pilihan lain bagi seorang guru harus memiliki kesadaran dan memotivasi diri serta mendedikasikan dirinya untuk selalu meng-upgrade kompetensi dan profesionalitasnya serta mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penguasaan IT
Kemampuan menggunakan informasi dan teknologi (IT) merupakan suatu kompetensi wajib yang harus dimiliki guru pada masa kekinian. Sehingga dapat dikatakan guru pembelajar harus melek IT. 

Ilmu pengetahuan yang semakin berkembang dan bermunculannya informasi-informasi baru yang bergitu cepat hanya bisa diakses melalui IT. 

Penguasaan IT, mutlaklah untuk guru di masa pandemi Covid-19 dan sangat berguna bagi guru dalam menjalankan tugas-tugas kesehariannya.

Inovasi Pembelajaran
Selain penguasaan IT, seorang guru pembelajar harus mampu berinovasi dalam pembelajaran, mampu mengembangkan metode, strategi, model dan media yang sesuai dengan karakteristik pada generasi saat ini. 

Guru pembelajar harus mampu memberikan bekal kepada siswa agar menjadi siswa pembelajar. Guru harus paham bahwa dua dasarwasa sampai tiga dasawarsa mendatang mungkin ada perubahan global baik dari sisi IT, ilmu pengetahuan dan hal-hal lain yang akan dihadapi oleh peserta didik kita saat ini. 

Maka memotivasi dan mengarahkan peserta didik menjadi siswa pembelajar harus ditanamkan sejak dini. 

Tidak ada kata berhenti belajar bagi seorang guru. Guru wajib terus berguru alias belajar lagi. Jangan karena sudah menyandang predikat guru, atau merasa sudah menjadi guru profesional karena mengantongi sertfikat profesi, lalu berhenti belajar. Ini pandangan keliru. Guru memang harus terus berguru. 

Friday, June 11, 2021

Guru Adalah Ibu Semua Profesi


Mantan Mendikbud Daud Yusuf pernah mengatakan: di dunia ini hanya ada dua profesi yaitu guru dan bukan guru. Profesi dan lain-lain (bukan guru) itu ada, karena ada guru.

Guru merupakan suatu pekerjaan mulia. Apabila ada guru melakukan tugasnya secara ikhlas dan berdasarkan suara hatinya, maka mereka sudah memiliki "tiket masuk surga". Apabila guru dalam mendidik muridnya dilandasi dengn kasih sayang, maka mereka juga akan mendapat tambahan bonus dicintai oleh muridnya.

Dengan demikian, guru yang baik akan memperoleh tiga "gaji" sekaligus yaitu "gaji" ekonomis (uang),"gaji" teologis (amal ibadah), dan "gaji" sosial (kesan dan ingatan yang baik dari para muridnya, paling tidak didoakan).

Sejarah bangsa Jepang memberikan kita pelajaran berharga terkait profesi guru. Ketika kota Hiroshima dan nagasaki dijatuhi bom atom oleh tentara sekutu pada bulan Agustus 1945, yang menewaskan ratusan ribu penduduk kedua kota itu, pertanyaan yang dilontar Kaisar Hirohito bukanlah berapa tentara yang masih hidup. Tetapi, berapa jumlah guru yang tersisa dan dapat diperankan membangun peradabannya. 

Fenomena historis ini menunjukkan bahwa guru memiliki status dan peran yang sangat terhormat dalam suatu bangsa. 

Di sisi yang lain, menunjukkan cara berpikir seorang pemimpin bangsa harus jauh ke depan dengan meletakkan peran penting aspek pendidikan, sekaligus menjadikan guru sebagai ujung tombaknya. Sebagaimana dikatakan oleh Lyndon B Johnson Presiden Amerika Serikat periode 1963 - 1969 bahwa: "all the problem can be solved with one word is education". 

Guru: Pendidik atau Profesi
Mengacu pada UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa "Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada satuan pendidikan tertentu". Perubahan status sebagai profesi (semoga bukan penggantian istilah pendidik) jelas membawa implikasi secara ekonomis. 

Sebab, profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandaikan suatu keahlian. Oleh karena itu, seorang guru yang profesional akan memperoleh pendapatan yang lebih jika dibanding dengan guru yang tidak profesional.

Meningkatnya keuntungan ekonomis sebagai profesi guru, keinginan masyarakat untuk menjadi guru tampak semakin besar. Bahkan, guru yang ada juga bertambah semangat mengejar tunjangan profesi guru, walau secara kualitatif tidak disertai dengan tanggung jawab profesinya.

Guru sebagai Aktor Sosial
Karakter guru berbeda dengan profesi lainnya, sepeprti pedagang, teknisi, mauppun militer. Guru dalam arti pendidik berbeda dengan tutor, pelatih (trainer). Meskipun, profesi guru sebagai pendidik membutuhkan pendidikan dan pelatihan tetapi profesi pendidik tidak hanya berkaitan dengan hard skill, tetapi lebih banyak berkaitan dengan soft skill (karakter).