Sunday, September 6, 2026

Pembelajaran STEM yang Mudah dan Murah Beserta Contohnya

 


Masih ada anggapan keliru bahwa pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) adalah hal yang rumit, membutuhkan laboratorium mahal atau peralatan berteknologi tinggi. Namun kenyataannya, pendidik tidak memerlukan printer 3D atau  mendapatkan dana hibah terlebih dahulu untuk menerapkan pembelajaran STEM. Yang pendidik butuhkan adalah kreativitas dan pola pikir yang menghargai proses daripada produk.
 
Inti dari pembelajaran STEM bukanlah peralatan, melainkan pengalaman. Alih-alih bertanya, "Peralatan apa yang bisa kita beli?", kita harus mulai dengan bertanya, "Masalah apa yang dapat kita selesaikan?". Dan pengalaman itu dapat dibangun dari bahan sekitar kita, bahkan sampah. 

Pada kesempatan kali ini guruberto.com akan membahas mengenai STEM yang mudah dan murah. Hal ini sejalan dengan prinsip STEM 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful. Prinsip ini mendorong pendidik untuk menghadirkan pembelajaran STEM yang sederhana, relevan dan dapat diterapkan sesuai kondisi satuan pendidikan.
  
Pembelajaran STEM (Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika) merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran, (tidak hanya Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika) serta berfokus pada pemecahan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran mencakup penyelidikan ilmiah, dan siklus enjinering yang berulang, pemodelan matematis, dan pemanfaatan teknologi secara tepat guna. 

Pembelajaran STEM melatih murid untuk menyelesaikan masalah dengan cara menghadirkan persoalan kontektual dalam kegiatan belajar. Penyajian konten masalah ini bertujuan untuk membangun kepedulian murid terhadap isu-isu lokal yang ada di lingkungan sekitar mereka, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap fenomena yang mereka alami secara langsung.

Masalah sampah di sekolah merupakan salah satu contoh konten masalah yang bisa diangkat dalam pembelajaran STEM. Masalah ini bersifat kontekstual karena murid mengalaminya (melihat, menghasilkan, dan berinteraksi) langsung dengan sampah setiap hari.

Berikut adalah contoh penyajian masalah timbulan sampah di lingkungan sekolah dalam pembelajaran STEM.
Proyek Sederhana : Pembuatan Pupuk Kompos
Masalah Kontekstual : Timbulan Sampah di Lingkungan Sekolah
Arahan Identifikasi Masalah
  1. Mari kita berkeliling di lingkungan sekitar, amati kondisi sampah yang dihasilkan dari aktivitas satuan pendidikan! (Sampah bercampur atau terpilah)
  2. Pertanyaan pemantik: Apa yang dapat kita lakukan untuk mengolah sampah tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk tanaman?
  3. Rancanglah cara pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan, hemat biaya, dan mudah dilakukan oleh warga satuan pendidikan. 


Adapun deskripsi integrasi STEM pada topik pembuatan pupuk kompos adalah sebagai berikut.
Sains (S)  : Sampah organik dapat didaur ulang menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.
Teknologi (T)  : Murid menggunakan aktivator (pengurai), termometer kompos, higrometer, dan pH meter untuk memantau suhu, kelembapan, dan pH di dalam tumpukan kompos secara berkala.
Enjnering (E) : Murid merancang komposter sederhana dengan mempertimbangkan lama penguraian dan jenis sampah organik di lingkungan sekolah (daun kering, sisa makanan dari kantin sekolah atau Makan Bergizi Gratis)
Matematika (M) :  Murid membaca dan menyajikan data (dalam bentuk tabel) perkembangan proses pengomposan seperti suhu, kelembapan, pH secara berkala.

Dalam praktiknya, pembelajaran STEM dengan topik pembuatan pupuk kompos ini menggunakan teknologi sederhana atau STEM yang mudah dan murah, yang memanfaatkan alat sederhana atau bahan bekas yang tersedia di lingkungan sekitar.

Melalui prinsip mudah dan murah, pembelajaran STEM tidak harus bergantung pada fasilitas yang mahal atau teknologi kompleks. Pendidik dapat memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia di sekitar sekolah seperti sampah untuk mengajak murid melakukan pengamatan, percobaan, dan menciptakan solusi.

Selamat mencoba...

Thursday, May 21, 2026

PANDUAN PENGELOLAAN BANK SAMPAH DI SEKOLAH


PANDUAN PENGELOLAAN BANK SAMPAH DI SEKOLAH (Belum Terbit)
Rp. 69.000

Penulis: Berto Sitompul
Penerbit : CV Elora Academy
Panjang : 21 cm
Lebar : 14,8 cm
Halaman : 65
ISBN: 00
Sinopsis:
Persoalan sampah bukan hanya soal volume, melainkan juga masalah kesadaran dan sistem edukasi yang belum selaras, tak terkecuali di lingkungan sekolah. Banyak sekolah belum serius mengelola sampah. Edukasi sampah sering kali gagal hanya berhenti di dalam kelas. Sistem yang berjalan selama ini masih berorientasi pada pembuangan sampah, bukan pengurangan. Praktik "daur ulang di sekolah" sering terjebak pada rutinitas simbolik, yaitu membuat kerajinan dari sampah. Kegiatan pini memang edukatif, tetapi skalanya sangat kecil dan tidak menyelesaikan persoalan utama. Bahkan tak jarang, produk kerajinan tersebut menjadi sampah baru.

Maka, dibuatlah buku ini, sebuah panduan dalam melaksanakan edukasi dan sistem manajemen sampah di sekolah melalui program Bank Sampah. Pengelolaan Bank Sampah dilakukan dari dan untuk warga sekolah (siswa, guru, staf). Melalui panduan ini, Bank Sampah diharapkan bisa jadi solusi atasi sampah di lingkungan sekolah, bukan hanya mengurangi sampah tetapi juga sumber belajar dan peluang ekonomi.

Monday, January 20, 2025

Aku Guru Hebat, Apapun Kurikulumnya


Di dunia ini serba berubah dan tak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri. Hal ini berlaku pula dalam bidang kurikulum. Kurikulum senantiasa berubah secara terus-menerus mengikuti kecenderungan perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan kebutuhan masyarakat dan peserta didik. Indonesia sendiri termasuk negara yang sering mengubah kurikulumnya.

Sejak masa kemerdekaan tahun 1945, pemerintah Indonesia sudah beberapa kali mengubah kurikulum, mulai dari tahun 1947 Rencana Pelajaran, dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai, Rencana Pendidikan Sekolah Dasar (1964), Kurikulum Sekolah Dasar (1968), Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) (1973), Kurikulum Sekolah Dasar (1975), Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Revisi Kurikulum 1994 (1997), Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (2006), Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka (2024). Dan, sekarang kita dihadirkan dengan perubahan substansi kurikulum, yakni pendekatan deep learning atau Pembelajaran Mendalam.

Kurikulum tidak boleh statis, harus berubah. Maka karena itu perubahan substansi kurikulum merupakan hal biasa. Yang ingin dipersoalkan di sini bukan substansi perubahan kurikulum, tetapi lebih difokuskan pada tindakan antisipatif terhadap perubahan substansi kurikulum tersebut, yang ditampakkan guru dalam kemampuan inovatifnya ketika melaksanakan kurikulum di sekolah. 

Guru perlu tanggap secara proaktif, ketika adanya perubahan substansi kurikulum yang tak sekadar pasrah atas perubahan substansi kurikulum tersebut.

Nana Syaodih berkata, betapa pun bagusnya kurikulum (official), tetapi hasilnya sangat tergantung pada apa yang dilakukan guru dan juga murid dalam kelas (aktual). Sebagus apapun kurikulum yang dicanangkan, jika guru sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran tidak dapat memahami dan mengaplikasikan hasilnya pun akan sia-sia.

Jadi, selain perbaikan berkala terhadap kurikulum sebagai acuan pelaksanaan pendidikan, juga perlu diperhatikan pula pengembangan kualitas dan kemampuan guru sebagai pelaksana dari kurikulum itu sendiri.

Pemahaman dan inovasi guru tentang kurikulum akan menentukan rancangan guru (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, RPP) dan diterjemahkan ke dalam bentuk kegiatan pembelajaran di kelas. Kelaslah yang menjadi garis depan perubahan dan perbaikan kurikulum.

Guru juga harus menguasai kurikulum yang berlaku saat ini, sehingga mampu memahami dan menerjemahkan pesan-pesan kurikulum dengan cerdas. Tak sedikit guru  yang menjalankan perubahan substansi kurikulum dengan mengubah sampul serta perangkat mengajarnya sesuai format yang telah diberikan pada kegiatan-kegiatan pelatihan baik secara luring maupun daring.

Pengalaman menunjukkan meski kurikulum sering berubah, kenyataannya cara mengajar sebagian guru di depankelas tak banyak berubah. Dari dulu sampai sekarang sebagian guru asyik dengan metode konvensional. Sebuah fenomena yang menggambarkan betapa 'miskinnya' pengetahuan sebagian guru kita tentang model/pendekatan/strategi/metode/teknik pembelajaran.

Akhirnya, apapun perubahan substansi kurikulum yang hendak digagas, kita (guru dan manajemen sekolah) mesti bersungguh-sungguh dalam pelaksanaannya di sekolah. Biarlah substansi kurikulum berubah dan guru tetap berbenah.

Friday, January 17, 2025

Apa Itu Mindful Learning dan Penerapannya dalam Pembelajaran


Mendikdasmen Abdul Muti menggagas pendekatan deep learning dalam pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Salah satu elemen utamanya adalah mindful learning

Mindful learning atau pembelajaran yang sadar adalah pendekatan yang menekankan kesadaran penuh dan perhatianpada setiap proses belajar. Dengan menjadi sadar secara penuh, siswa diharapkan dapat lebih fokus, terlibat, dan terbuka terhadap pengalaman belajar mereka.

Arti Mindful Learning Menurut Ahli
Mindful learning menurut ahli

Berikut beberapa defenisi dari para ahli:
1. Ellen Langer (2016)
Mindful learning adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan perhatian penuh pada momen saat ini dan kesediaan untuk melihat berbagai perspektif.

2. Brown dan Ryan (2003)
Menurut Brown dan Ryan, pengertian mindfulness dalam pembelajaran adalah adanya kesadaran penuh terhadap proses belajar dan pengalaman belajar, yang membantu siswa lebih memahami dan merasakan keterhubungan dengan materi yang mereka pelajari

Prinsip Utama Mindful Learning
Mindful learning memiliki beberapa prinsip dasar, yaitu pertama, keterbukaan terhadap kemungkinan baru. Mindful learners tidak terjebak pada satu cara atau solusi yang sudah terbiasa. Mereka mencari berbagai kemungkinan dan tidak terbatas pada cara-cara tradisional dalam belajar.

Kedua, mengurangi pemikiran otomatis. Pembelajaran yang sadar berusaha untuk mengurangi kecenderungan berpikir otomatis, yaitu mengikuti kebiasaan atau rutinitas tanpa pertimbangan. Siswa didorong untuk lebih sering berhenti sejenak, berpikir, dan mengevaluasi cara mereka belajar.

Ketiga, proses bukan hasil. Mindful learning lebih menekankan pada proses daripada hasil akhir. Pembelajaran dianggap sebagai perjalanan yang berkelanjutan, di mana siswa aktif terlibat dan beradaptasi, bukan hanya berfokus pada pencapaian angka atau nilai.

Keempat, membangun hubungan antar pengetahuan. Salah satu aspek penting dari mindful learning adalah kemampuan untuk menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada, menciptakan pemahaman yang lebih luas dan aplikasi yang lebih relevan.

Penerapan Mindful Learning dalam Pembelajaran
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk menerapkan mindful learning dalam pembelajaran:
1. Guru memulai pembelajaran dengan latihan pernapasan sederhana selama beberapa menit untuk membantu siswa lebih fokus.
2. Siswa menuliskan pengalaman belajar mereka dalam jurnal reflektif
3. Guru memfasilitasi diskusi kelompok yang melibatkan perhatian penuh siswa terhadap pemikiran dan ide teman-temannya. Misalnya, dalam mata pelajaran IPA, guru dapat mengajak siswa melakukan observasi alam dengan kesadaran penuh, seperti memperlihatkan suara, warna, terkstur di lingkungan sekitar. Kegiatan ini membantu siswa tidak hanya belajar IPA, tetapi juga mengembangkan keterampilan fokus dan refleksi diri.

Thursday, January 16, 2025

Pengertian Deep Learning Menurut Para Ahli


Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam merupakan salah satu metode dalam kecerdasan buatan (Artificial Intelegence/AI) yang saat ini semakin banyak diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Meskipun istilah deep learning lebih sering digunakan dalam konteks teknologi, dalam dunia pendidikan istilah deep learning berkaitan dengan cara-cara yang lebih mendalam dalam memproses informasi dan meningkatkan pembelajaran siswa. Lantas, apa pengertian deep learning atau pembelajaran mendalam menurut para ahli?

Di bawah ini terdapat penjelasan mengenai pendapat para ahli mengenai deep learning. Yuk, simak penjelasan lengkapnya. 

Arti Deep Learning Menurut Ahli

Deep learning menurut John Hattie

Berikut pengertian belajar menurut para ahli yang harus kamu ketahui.
1. John Hattie (2012)
Di dalam buku Visible Learning for Teacher: Maximizing Impact on Learning (2012), John Hattie membagi belajar menjadi tiga jenis, yaitu belajar di permukaan (surface learning), belajar mendalam (deep learning), dan belajar untuk transfer (transfer learning).

Belajar mendalam adalah periode dimana siswa mendalami pemahaman mereka, dan mengaplikasikan apa yang mereka pelajari di permukaan untuk mendukung pemahaman konseptual yang lebih mendalam.


2. Ellen Langer (1997)
Deep learning lebih dari sekadar memahami materi, melibatkan pemahaman dalam konteks yang lebih luas dan reflektif. Pembelajaran mendalam ini terjadi ketika siswa benar-benar berinteraksi dengan materi, mengaitkannya dengan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya, serta menggunakan pemahaman tersebut untuk menciptakan wawasan baru dan aplikasi praktis.

3. Marton dan Salj (1976)
Deep learning mencakup pemrosesan informasi yang lebih kompleks dan reflektif. Siswa yang menggunakan pendekatan ini tidak hanya menghafal informasi, tetapi mereka berusaha untuk memahami konsep secara menyeluruh, menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada, dan melihat hubungan antar konsep. 

Karakteristik pembelajaran mendalam (deep learning) menurut Marton dan Salj (1976), yaitu: Pertama, Pemahaman Konsep dan Prinsip. Siswa berusaha memahami hubungan antar konsep bukan hanya menghafal informasi secara terpisah.

Kedua, Refleksi Mendalam. Siswa cendereung mengembangkan kemampuan analitis dan kristisnya, serta merenung dan mengeksplorasi makna serta implikasi dari infromasi yang mereka pelajari. Siswa mencari makna dan relevansi dari apa yang mereka pelajari secara kontekstual serta mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

Ketiga, Tujuan Jangka Panjang. Pembelajaran dilakukukan dengan tujuan untuk menguasai dan mengaplikasikan pengetahuan secara lebih luas dan mendalam. Apa yang diperoleh siswa tidak hanya untuk informasi jangka pendek, namun dimanfaatkan untuk manfaat yang lebih luas di jangka panjang. 

Demikianlah penjelasan mengenai deep learning  dari sudut pandang para ahli. Semoga membantumu semakin paham, ya!

Wednesday, January 15, 2025

Taksonomi SOLO dalam Deep Learning


Deep Learning
atau Pembelajaran Mendalam menggunakan taksonomi SOLO dan taksonomi Bloom. Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome = struktur hasil belajar yang diamati) merupakan kerangka kerja yang dikembangkan oleh John Biggs dan Kelvin Collins (1982) untuk menilai dan memahami tingkat kualitas hasil belajar siswa.

Taksonomi ini berfokus pada kedalaman pemahaman siswa terhadap suatu konsep atau tugas, bukan sekadar kuantitas informasi yang diperoleh.

Menurut taksonomi SOLO, tingkat pengetahuan siswa dapat dilihat melalui tahapan prestructural (belum terstruktur), unistructural (satu struktur), multistructural (banyak struktur), relational (berhubungan), dan extended abstract (abstraksi meluas).

Pada tahap prestructural, siswa tidak memahami materi atau tugas dengan benar. Mereka cenderung memberikan jawaban yang tidak relevan atau menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang memadai. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan siklus air, siswa hanya menyebut kata-kata tanpa hubungan yang jelas, seperti hujan dan air.

Tahapan unistructural, siswa hanya dapat memahami satu aspek atau ide dari konsep yang diajarkan. Mereka dapat menjawab dengan benar, tetapi pemahamannya masih sangat terbatas. Misalnya, siswa menyebutkan bahwa hujan terjadi karena penguapan air, tetapi tidak menjelaskan proses lainnya dalam siklus air.

Tahapan ketiga adalah multistructural. Pada tahap ini, siswa dapat memahami dengan beberapa aspek dari konsep yang diajarkan, tetapi belum mampu menghubungkan aspek-aspek tersebut menjadi suatu kesatuan yang bermakna. Pemahamannya bersifat terfragmentasi. Misalnya, siswa menjelaskan bahwa siklus air melibatkan penguapan, kondensasi, dan hujan, tetapi tidak menunjukkan hubungan antara proses tersebut.

Tahapan berikutnya dari taksonomi SOLO adalah relational. Pada tahap ini, siswa dapat mengintegrasikan berbagai aspek dari konsep yang diajarkan menjadi pemahaman yang utuh. Mereka mampu menjelaskan keterkaitan di antara aspek-aspek tersebut. Misalnya, siswa menjelaskan bahwa siklus air melibatkan penguapan air dari permukaan bumi, pembentukan awan melalui kondensasi dan turunnya hujan yang mengembalikan air ke bumi, serta bagaimana proses ini berulang.

Tahapan terakhir adalah extended abstract. Siswa mampu menerapkan pemahaman mereka dalam konteks yang lebih luas atau abstrak. Mereka dapat mengeksplorasi ide baru, membuat generalisasi, atau mentransfer pengetahui ke situasi lain. Dalam hal ini, siswa menggunakan pemahamannya tentang siklus air untuk menganalisis dampak perubahan iklim terhadap pola hujan global. 

Taksonomi SOLO adalah kerangka yang digunakan untuk mengukur tingat pemahaman peserta didik melalui beberapa tingkatan hierarkis. Model ini berupaya menangkap bagaimana pemahaman berkembang dari sederhana ke kompleks. SOLO tidak hanya mengevaluasi kemampuan kognitif tetapi juga memfasilitasi pengajaran yang berpusat pada peserta didik. 

Tuesday, January 14, 2025

Apa Itu Deep Learning dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam

Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam merupakan salah satu metode dalam kecerdasan buatan (Artificial Intelegence/AI) yang saat ini semakin banyak diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Meskipun istilah deep learning lebih sering digunakan dalam konteks teknologi, dalam dunia pendidikan istilah deep learning berkaitan dengan cara-cara yang lebih mendalam dalam memproses informasi dan meningkatkan pembelajaran siswa.

Salah seorang ahli yang memiliki pandangan penting  tentang pembelajaran mendalam adalah John Hattie, profesor pendidikan asal Selandia Baru. John Hattie dikenal karena penelitian yang dilakukannya tentang faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. 

Di dalam buku Visible Learning for Teacher: Maximizing Impact on Learning (2012), John Hattie membagi belajar menjadi tiga jenis, yaitu belajar di permukaan (surface learning), belajar mendalam (deep learning), dan belajar untuk transfer (transfer learning).

1. Belajar di permukaan (surface learning)
Belajar di permukaan berarti belajar konsep, keterampilan, dan strategi yang akan menjadi dasar bagi siswa agar mereka dapat berpikir secara lebih mendalam.

2. Belajar mendalam (deep learning)
Belajar mendalam adalah periode dimana siswa mendalami pemahaman mereka, dan mengaplikasikan apa yang mereka pelajari di permukaan untuk mendukung pemahaman konseptual yang lebih mendalam. 

3. Belajar untuk transfer (transfer learning)
Belajar untuk transfer adalah kondisi di mana siswa menggunakan pemahaman mereka yang telah didalami untuk menggunakannnya di dalam konteks atau skenario baru. Saat ini, siswa juga sudah berpikir secara metakognitif, merefleksikan pembelajaran dan pemahaman mereka. 

Penerapan Deep Learning
Penerapan deep learning dalam pembelajaran tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi, meskipun itu juga bagian penting dari konsep ini. Pembelajaran mendalam dalam konteks pendidikan melibatkan pendidikan yang lebih holistik untuk mendorong siswa berpikir kristis, menyelesaikan masalah kompleks dan membuat keputusan berdasarkan pemahaman yang menyeluruh. 

Berikut ini adalah beberapa cara untuk menerapkan deep learning dalam pembelajaran yang bersesuaian dengan pandangan John Hattie, yakni: Pertama, Penggunaan Umpan Balik yang Membangun. Hattie menyatakan bahwa pembelajaran mendalam terjadi ketika siswa mampu menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Untuk itu, ia menekankan pentingnya peran guru dalam memberikan umpan balik yang jelas dan membimbing siswa untuk membuat koneksi antara konsep yang berbeda. 

Kedua, Mengunakan Pembelajaran Berbasis Projek. Model pembelajaran berbasis projek (Project-Based Learning, PBL) memungkinkan siswa untuk terlibat dalam tugas-tugas menantang yang memerlukan pemecahan masalah yang mendalam. Melalui projek, siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam situasi dunia nyata dan bekerja dalam kelompok untuk mengatasi tantangan.

Ketiga, Menggunakan Pembelajaran Kolaboratif. Pembelajaran mendalam juga dapat dicapai melalui kerja sama antar siswa. Melalui pembelajaran kolabortaif, siswa bekerja bekerja sama untuk menganalisis masalah, berbagi gagasan, dan menyelesaikan tugas secara berkelompok. 

Keempat, Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis. Salah satu elemen utama dalam deep learning adalah kemampuan berpikir kritis. Guru bisa mendorong siswa untuk bertanya lebih banyak, memberikan pertanyaan terbuka, dan mencari alasan yang lebih dalam untuk konsep yang sedang dipelajari sehingga siswa tidak hanya menerima informasi tetapi juga mempertanyakan dan mengeskplorasi gagasan-gagasan tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. 

Singkatnya, deep learning dalam konteks pendidikan tidak hanya berhubungan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga dengan bagaimana siswa mengaitkan dan memahami pengetahuan yang lebih mendalam. Harapannya, kualitas pembelajaran dapat semakin meningkat dengan menerapkan cara-cara ini.