Tuesday, August 3, 2021

Contoh Gambar Imajinatif Gedung Sekolah Untuk Anak SD Kelas 2

Gambar Imajinatif Gedung Sekolah

Hai adik-adik kelas 2 SD, pada artikel kali ini Guru Berto akan membahas tentang gambar imajinatif gedung sekolah berikut contoh gambar imajinatif gedung sekolah yang bisa kalian cermati. 

Apa itu gambar imajinatif?
Gambar imajinatif adalah gambar yang dibuat berdasarkan imajinasi atau khayalan pelukisnya sendiri. Jadi, gambar imajinatif mencerminkan apa yang sedang dirasakan atau sedang dipikir oleh pelukis. Gambar imajinatif seseorang dengan yang lain berbeda-beda.
 
Adapun ciri-ciri gambar imajinatif adalah
1. Hanya sekedar khayalan yang dituangkan ke dalam bentuk gambar.
2. Bersifat tidak nyata.
3. Di luar nalar manusia.

Alat dan bahan 
  • pensil
  • krayon
  • penghapus
Langkah-langkah membuat gambar imajinatif
1. Siapkan alat dan bahan
2. Lakukan pengamtan atau observasi
3. Buatlah sketsa gambar. Sketsa adalah rancangan awal dalam menggambar.

Contoh Sketsa Awal Gambar Gedung Sekolah


Contoh Sketsa Akhir Gambar Gedung Sekolah

4. Berilah warna.

Gambar Imajinatif Gedung Sekolah SD SITI AMINAH

Gambar Imajinatif SEKOLAH

Gambar Imajinatif SEKOLAH KAMI

Akhir kata, demikian ulasan Guru Berto tentang gambar imajinatif gedung sekolah dan contoh gambar imajinatif gedung sekolah. Semoga bermanfaat. 

Monday, August 2, 2021

Runtuhnya Mitos Gaya Belajar

Mitos Gaya Belajar

Saya awali tulisan ini dengan sebuah unggahan akun Facebook atas nama Yohanes Surya (OFFICIAL) yang membagikan tentang mitos gaya belajar (teori VARK, visual, auditory, reading/writing,  dan kinestetik). Agar tidak penasaran, langsung saja baca. Begini isinya.

Jangan batasi potensimu.

Teori pendidikan membagi orang atas 4 jenis pembelajaran VARK (Visual, Auditory, Reading/writing, Kinesthetic).
Akhir-akhir ini beberapa penelitian (termasuk riset yang didanai google search) mempertanyakan kebenaran teori VARK ini.

Teori VARK membatasi diri kita dalam belajar. Ini sangat merugikan Teori ini membuat anak yang merasa lebih visual, malas belajar hal yang membutuhkan baca/tulis. Atau anak yang merasa lebih auditory, mempunyai alasan untuk tidak belajar hal yang membutuhkan kinestetik, dsb... dsb.

Saya pernah di"vonis" pimpinan paduan suara (waktu SMA) bahwa saya tidak bisa menyanyi. Sejak saat itu saya menghidndari belajar alat-alat musik. Saya membatasi diri saya sendiri sampai saat ini saya tidak bisa main gitar, piano atau alat musik apapun. Padahal menurut tes bakat, saya lebih berbakat jadi komposer musik daripada jadi fisikawan.

Yang membuat seorang mampu belajar lebih baik adalah metode atau strategi pembelajarannya. Seorang mudah belajar geografi kalau lebih banyak visualnya. Seorang mudah belajar olahraga kalau lebih banyak kinestetiknya. Seorang mudah belajar matematikan kalau berulang-ulang menulis mengerjakan ratusan soal-soal. Seorang lebih mudah belajar musik dengan lebih banyak mendengar (auiditory).

Metode mengajar yang baik adalah metode multimedia, yang menghubungkan VARK secara tepat.

Misalnya ketika belajar bunyi: kita gunakan visual untuk penggambaran hantaran bunyi lewat gerakan atom-atom, auditory untuk membedakan frekuensi akibat efek dopler bunyi, baca/tulis untuk menurunkan dan mengerti rumus-rumus bunyi, kinestetik ketika melakukan berbagai eksperimen bunyi.

Teknologi multimedia (komputer, animasi) dapat menggabungkan VARK ini membuat pembelajaran menjadi gampang, asyik, menyenangkan. Belajar akan menyenangkan kalau dipelajarinya asyik dan mudah difahami, bukan?

Ayo jangan penjarakan diri kita denga penjara-penjara yang kita cipatakan sendiri. 

Teori gaya belajar atau teori VARK ini begitu populer di kalangan guru dan orangtua. Paul Howard Jones mengungkap fakta mengejutkan mengenai keyakinan guru pada teori gaya belajar. Hasil survei menunjukkan lebih dari 90 persen guru di berbagai negara di belahan dunia percaya pada teori gaya belajar ini. Mereka yakin bahwa "seseorang bakal belajar lebih baik ketika menerima informasi dengan gaya belajar mereka sukai, entah itu visual, auditori, atau kinestetik". Pertanyaanya, apakah keyakinan itu fakta ... atau mitos?

Apa kata riset
VARK (Visual, Auditory, Reading/Writing, Kinesthetic)

Alih-alih memberi penguatan, berbagai hasil riset justru berkata sebaliknya. Mari kita simak, misalnya hasil studi terbaru dari Hushman & O'Loughlin (2019) yang meneliti ratusan pelajar. Hushman menemukan, ternyata menyesuaikan cara penyampaian materi dengan gaya belajar yang disukai anak-anak tidak meningkatkan prestasi merasa. Selain itu, untuk memahami materi, para siswa tidak membatasi diri pada cara belajar tertentu. Mereka mengkombinasi berbagai pendekatan, termasuk yang dianggap cocok denga tipe (yang dilabelkan) pada mereka.

Apakah anak yang merasa yakin bahwa dirinya tipe visual berarti dia sungguh akan menyerap lebih materi visual? Atau anak yang meyakini dirinya tipe verbal, benarkah akan menyerap lebih materi tulisan? Studi Knoll dkk (2017) menjawab: Tidak! Memilih antara visual atau verbal, itu tergantung selera anak saja, tetapi bukan berarti dia betul-betul memiliki potensi visual atau verbal lebih ketimbang yang lain.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Rogowsky dkk (2015), yang tidak mendapati kegunaan dari melabeli seseorang dengan gaya belajar tertentu. Anak yang meraa dirinya tipe auditori, saat dites secara auditori, hasilnya tidak lebih baik ketimbang yang lain. Dari berbagai macam tes, yang unggul ternyata anak yang terampil membaca teks. Menurut Rogowsky, kita justru bisa merugikan anak kalau melabeli dia "auditori" lalu menyuruh terus-menerus belajar lewat pendengaran saja, dan lalai menguatkan keterampilannya memahami tulisan.

Bahkan belasan tahun yang lalu, tim Harold Pashler (2009) sudah memperingatkan, meskipun sangat populer, bukti ilmiah untuk teori gaya belajar "sangat lemah dan tak meyakinkan". Pashler mengatakan, kita seharusnya merasa terganggu oleh hal ini, karena keyakinan yang keliru tentang cara belajar bakal membuat siswa tak optimal belajar dan guru tak optimal mengajar.

Diolah dari berbagai sumber diantaranya tulisan Ellen K berjudul Mitos Gaya Belajar dan Salah Kaprah Kecerdasan Majemuk

Saturday, July 31, 2021

Download Modul Literasi dan Numerasi SMP

Modul Numerasi dan Literasi SMP

Salah satu kompetensi hasil belajar peserta didik yang diukur pada asesmen nasional mulai tahun 2021 adalah literasi membaca dan numerasi, yang disebut sebagai Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) (Kemendikbud, 2020). 

Kompetensi mendasar numerasi yang diukur mencakup keterampilan logis-sistematis, keterampilan bernalar menggunakan konsep dan pengetahuan matematika yang telah dipelajari, serta keterampilan memilah serta mengolah informasi kuantitatif dan spasial. Peserta didik akan diuji kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai konteks yang relevan dengan mereka sebagai warga Indonesia dan warga dunia.

Komponen AKM numerasi selain mencakup konten (bilangan, pengukuran, dan geometri, data dan ketidakpastian, dan aljabar) juga melibatkan proses kognitif, yaitu pemahaman, penerapan, dan penalaran. Peserta didik diharapkan memahami fakta, prosedur, serta alat matematika yang dapat digunakan di dalam penyelesaian masalah. Selain itu, mereka mampu menerapkan dan bernalar dengan konsep matematika dalam situasi nyata, baik yang bersifat rutin maupun nonrutin, dalam berbagai konteks (personal, sosial budaya, dan saintifik).

Kemampuan bernalar secara logis adalah keterampilan yang diharapkan dikuasai peserta didik dari proses membaca dan menanggapi bacaan. Hasil AKM diharapkan dapat memberikan informasi tentang peta kecakapan literasi peserta didik agar guru dapat melakukan pengamatan untuk mengembangkan kemampuan bernalar mereka.

Penguatan literasi ini tentunya tidak semata bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi AKM. Guru mengembangkan keterampilan bernalar peserta didik agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu menghadapi tantangan hidup abad ke-21.

Panduan penguatan numerasi dan literasi ini dibuat dalam rangka memberikan inspirasi kepada guru mapel di jenjang Sekolah Menengah Pertama dalam mengembangkan aktivitas pembelajaran dengan penguatan atau unsur literasi dan numerasinya.

Buku 1 - Modul Numerasi Matematika SMP (Unduh)
Buku 2 - Modul Numerasi Non Matemtika SMP (Unduh)
Buku 1 - Modul Literasi (Unduh)
Buku 2 Modul Literasi (Unduh)

Sunday, July 25, 2021

Mengenal Slido dan Cara Menggunakannya

Dengan Slido, Diskusi Interaktif Jadi Mudah

Slido adalah platform tanya jawab dan pollling yang meningkatkan komunikasi dan interaksi dalam rapat ataupun pembelajaran. Presenter atau admin dapat mengumpulkan pertanyaan, menjalankan pollling langsung atau survei untuk mendapatkan wawasan dari audiens atau peserta.

Admin atau Presenter
Langkah-langkan menjalankan slido dalam presentasi, yaitu:
1) Kunjungi laman slido di https://www.sli.do/


2) Lalu klik log in, dan masuk menggunakan akun google.

3) Setelah muncul akun slido, maka pilih Create Slido.

4) Setelah itu pada bagian event name isi judul pertanyaan dan di bagian start date dan end date buat jadwal untuk menayangkan pertanyaan. Setelah disetting, tekan tombol Create Slido. Kita juga dapat mengundang peserta melalui fitur Invite Collaborators dengan memasukkan email peserta.

5) Setelah muncul tampilan seperti ini, kita memilih jenis pertanyaan. Misalnya, kita membuat pertanyaan terbuka silahkan pilih Open text


6) Lalu buat pertanyaan yang akan diberikan kepada peserta. 

7) Kemudian tekan tombol Save. Setelah itu kita dapat menampilkan pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya.

8) Untuk menampilkan slido, dapat menekan tanda panah play di bagian pertanyaan yang dibuat. Kemudian klik Present  di bagian kanan atas maka code event atau kode pertanyaan akan muncul, selanjutnya kode ini kita berikan kepada peserta sehingga peserta dapat bergabung untuk menjawab pertanyaan. Kita juga dapat membagikan tautan dari pertanyaan ini dengan menggunakan fitur Share melalui Share link with participants

Peserta
Nah, bagi Bapak, Ibu yang hanya menjadi audiens atau peserta boleh membuat akun tidak. Hanya cukup mengunjungi laman Slido di laman slido di https://www.sli.do/ dan memasukkan code event atau kode #... ... (kode pertanyaan terdiri dari enam angka). Cukup mudah bukan cara menggunakan slido?

Pada Q & A atau Question and Answer, audiens atau peserta dapat bertanya pada presenter (narasumber) secara langsung, dan siapapun boleh menjawab. 

Mudah-mudahan postingan kali ini bermanfaat bermanfaat dan selamat mencoba!

Wednesday, July 21, 2021

Membangun Komunikasi Positif Antara Guru dan Murid Selama Pandemi

Komunikasi guru dan murid

Membicarakan tentang dunia guru dan murid sama halnya kita bicara tentang cinta. Keduanya tidak akan akan habis untuk dikupas. Dunia guru dan murid merupakan dunia yang sangat kompleks untuk dibahas begitu pula dengan cinta. Sebagai tanda cinta guru kepada murid maka lahirlah berbagai cara dan terobosan untuk membentuk murid-murid yang cerdas dan berkarakter. Salah satunya adalah cara berkomunikasi dengan murid

Seorang guru dituntut untuk  membangun komunikasi positif dengan murid terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini. Kemampuan seorang guru dalam membangun komunikasi yang baik dengan murid merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Mari kita bayangkan, jika Bapak, Ibu mampu mencontohkan komunikasi yang jernih dengan murid, terlebih pada suasana genting (emosional). Ya, tentu saja kondisi pembelajaran akan terasa sangat kondusif, menyenangkan, dan menggairahkan. 

Bapak, Ibu dapat membangun komunikasi yang jernih dengan murid terlebih pada situasi pandemi ini dengan OTFD. Bapak, Ibu pasti bertanya-tanya OTFD adalah singkatan dari apa? Untuk menjawabnya mari simak penjelasan tentang OTFD ini. 

Open = Observation  (Observasi)
Katakanlah apa yang terjadi dengan cara yang aobjektif, teramati, lugas, agar kedua pihak memulai pada titik yang sama. Sebagai contoh, "Bapak melihat kamu terlambat mengumpulkan tugas menulis refleksi selama seminggu." Perhatikan ini adalah pernyataan fakta, bukan penilaian atau kesimpulan, hanya data.

The = Thought (Pikiran)
Berikutnya, nyatakan pikiran atau pendapat menggunakan pernyataan "saya". Misal, "Barangkali Bapak yang tidak jelas menyampaikan batas waktu atau mungkin ada yang menghambat kamu mengumpulkan tugas tepat waktu."

Front = Feeeling (Perasaan)
Ceritakan perasaan Bapak, Ibu, juga dalam bentuk "saya". Misalnya, "Ketika Bapak mengetahui kamu belum mengumpulkan tuas, Bapak merasa kecewa dan sedih."

Door = Desire (Keinginan)
Nyatakan tujuan, atau hasil yang Bapak, Ibu inginkan. Contohnya, "Bapak ingin kamu mendapat nilai sempurna. Kamu harus mengumpulkan tugas tepat waktu, setiap kali. Bisakah kita membuat rencana yang dapat membantu kamu melakukan hal ini?"

Usahakanlah Bapak, Ibu menggunakan keempat tahapa ini secara berurutan. Apa yang akan terjadi jika tahapan ini tidak digunakan berurutan? Kita bisa menyimak hasilnya melalui ilustrasi berikut ini. Kita mulai dengan perasaan, "Bapak marah." Murid langsung menjadi defensif, mungkin bahkan tidak tahu mengapa kita marah. Kita mulai dengan pikiran atau pendapat, "Menurut Bapak, kamu tidak bertanggung jawab."Murid masih menjadi defensif, merasa kita berhak memvonis mereka semacam itu, bukannya memikirkan hal yang membuat kita berpikir demikian.

Kita mulai dengan keinginan, "Bapak ingin kamu memperbaiki sikap, kalau tidak keluar saja dari kelas." Sekali lagi, murid menjadi defensif, mencari-cari jawaban yang menyakitkan kepada kita bukannya memikirkan masalahnya. 

Dengan memulai dari tahap obersvasi, komunikasi membawa kedua pihak pada titk awal yang sama, mendengarkan dengan pikiran terbuka. Bapak, Ibu dapat mengatasi banyak kesalahpahaman langsung pada langkah pertama. Jika belum maka bisa menggunakan semua tahapan di atas secara berurutan., Dengan membiasakan diri untuk menyusun pikiran kita ke dalam urutan ini, kita juga melambat sehingga dapat memilih kata-kata yang lebih tenang dan mudah diterima. Tahapan tersebut juga bisa digunakan untuk memuji murid, murid bisa langsung mengejawantahkan kaitan antara pujian dengan perilaku sehingga mereka mudah mengulang perilaku tersebut di masa depan. Mari kita perhatikan contoh berikut.
"Ketika Bapak melihat (O) kamu bisa mengubah data ke dalam bentuk grafik, menurut Bapak (T) pembaca akan mudah memahami apa hasil pengamatanmu. Bapak menyukai (F) hasil pengamatan kamu yang deskriptif dan tak sabar membaca lagi hasil pengamatan kamu yang seperti ini (D)!"

Tuesday, July 20, 2021

Pentingnya Keterlibatan Orangtua dalam Pendidikan Anak

Orangtua mendampingi anak belajar by SurveyMETER

Orangtua merupakan penanggung jawab utama dalam pendidikan  anak-anaknya. Dimanapun anak tersebut menjalani pendidikan, baik di sekolah, di bimbingan belajar (bimbel), les privat, kursus, atau belajar mandiri orangtua tetap berperan dalam menentukan masa depan pendidikan anak-anaknya. 

Pendidikan di luar keluarga, bukan dalam arti melepaskan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak, tetapi hal itu dilakukan orangtua semata-mata karena keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh orangtua, karena sifat ilmu yang terus berkembang mengikuti perkembangan zaman sementara orangtua memiliki keterbatasan-keterbatasan. Di samping itu juga, karena kesibukan orangtua bekerja mencari nafkah untuk keluarga, ikut mendorong orangtua untuk meminta bantuan pihak lain dalam pendidikan anaknya.

Selama menempuh pendidikan di bangku sekolah, maka kepedulian orangtua terhadap pendidikan anak akan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Karena bagaimanapun, anak masih membutuhkan bantuan orangtuanya dalam belajar, meskipun dia telah mengikuti pendidikan di sekolah. 

Beberapa hasil penelitian menujukkan bahwa pencapaian pelajar meningkat jika orangtua terlibat aktif dalam pendidikan anak-anak mereka. Salah satunya adalah hasil penelitian dari Harvard Family Research Projects (HFRP) yang menujukkan bahwa keterlibatan orangtua mempunyai kaitan yang erat dengan hasil prestasi anak. Penelitian ini juga secara gamblang mengungkapkan bahwa keberhasilan anak apakah itu berupa nilai, skor tes, atau hasil asesmen yang dilakukan guru membutuhkan dukungan orangtua.

Selain itu, sebuah penelitian yang dimuat di CSU Bakerfield menjelaskan bahwa pelajar kemungkinan besar akan lebih termotivasi untuk mendapatkan nilai sempurna di sekolah, berperilaku lebih baik dan memiliki keterampilan sosial jika orangtuanya secara aktif berperan dan mendukung anaknya di sekolah.

Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua antara lain:
  • Ikut dalam forum komunikasi orangtua murid di sekolah
  • Mendukung anak di kegiatan ekstrakurikuler dan kunjungan ke lapangan.
  • Memastikan anak memiliki tempat yang nyaman untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah.
  • Membantu anak mengerjakan pekerjaan rumah.
  • Berkomunikasi dengan guru secara intens.
  • Mengobrol dengan anak tentang apa saja kegiatan yang dilakukan di sekolah pada hari itu. 

Monday, July 19, 2021

Apa Artinya Merdeka Belajar Untuk Siswa dan Guru?

Ilustrasi Merdeka Belajar

Mengapa kita perlu memahami arti merdeka belajar? Kata Merdeka Belajar atau dalam bahasa Inggris freedom of learning menjadi booming di kalangan pendidik ketika "Mas Menteri" menggaungkan kata tersebut. Namun demikian guru masih sering keliru akan arti merdeka belajar. Apakah arti merdeka belajar adalah guru dan siswa bebas untuk belajar apa saja sesuka hati atau bagaimana?

Merdeka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya tidak terikat, tidak bergantung pada orang lain atau pihak tertentu dan leluasa. Sedangakan belajar diartikan berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Jika kedua kata ini digabung bisa diartikan secara harafiah leluasa memperoleh ilmu.  

Apa itu Merdeka Belajar? Mengutip e-book dari Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar yang berjudul Konsep Merdeka Belajar dikatakan bahwa merdeka belajar adalah belajar yang diatur sendiri oleh pelajar. Pelajar yang menentukan tujuan, cara, dan penilaian belajarnya. Dilihat dari pespektif pengajar, merdeka belajar berarti belajar yang melibatkan murid dalam penentuan tujuan, memberi pilihan cara, dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar.

Merdeka Belajar sebenarnya bukanlah hal baru. Ki Hadjar Dewantara menekankan berulang kali tentang kemerdekaan belajar. "...kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu "dipelopori", atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri..." Ki Hadjar Dewantara (buku Peringatan Taman Siswa 30 Tahun, 1922 - 1952). Anak pada dasarnya mampu berpikir untuk "menemukan" suatu pengetahuan.

Apa arti kemerdekaan dalam pernyataan beliau tersebut? Dalam sebuah tulisan di buku Pendidikan, beliau menyatakan "Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri".

Berdiri sendiri berarti kemerdekaan belajar mengakui anak sebagai pemilik belajar. Anak memiliki kewenangan dan inisiatif atau arahan diri untuk belajar. Anak belajar tidak harus berhimpun dalam suatu kesatuan seperti kelas atau rombongan belajar.

Tidak bergantung pada orang lain berarti anak belajar tanpa bergantung pada hadir atau tidak hadirnya orang dewasa. Dengan atau tanpa kehadiran guru di kelas atau dengan atau tanpa kehadiran orang tua di rumah, anak-anak tetap belajar.

Dapat mengatur diri sendiri berarti anak mempunyai kemampuan untuk mengelola diri dan kebutuhan belajarnya. Ia dapat memilih cara dan media belajar yang sesuai dengan diri dan kondisi di sekitarnya. Ia dapat mengatur jadwal aktivitasnya untuk mencapai tujuan belajar.