Masih ada anggapan keliru bahwa pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) adalah hal yang rumit, membutuhkan laboratorium mahal atau peralatan berteknologi tinggi. Namun kenyataannya, pendidik tidak memerlukan printer 3D atau mendapatkan dana hibah terlebih dahulu untuk menerapkan pembelajaran STEM. Yang pendidik butuhkan adalah kreativitas dan pola pikir yang menghargai proses daripada produk.
Inti dari pembelajaran STEM bukanlah peralatan, melainkan pengalaman. Alih-alih bertanya, "Peralatan apa yang bisa kita beli?", kita harus mulai dengan bertanya, "Masalah apa yang dapat kita selesaikan?". Dan pengalaman itu dapat dibangun dari bahan sekitar kita, bahkan sampah.
Pada kesempatan kali ini guruberto.com akan membahas mengenai STEM yang mudah dan murah. Hal ini sejalan dengan prinsip STEM 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful. Prinsip ini mendorong pendidik untuk menghadirkan pembelajaran STEM yang sederhana, relevan dan dapat diterapkan sesuai kondisi satuan pendidikan.
Pembelajaran STEM (Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika) merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran, (tidak hanya Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika) serta berfokus pada pemecahan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran mencakup penyelidikan ilmiah, dan siklus enjinering yang berulang, pemodelan matematis, dan pemanfaatan teknologi secara tepat guna.
Pembelajaran STEM melatih murid untuk menyelesaikan masalah dengan cara menghadirkan persoalan kontektual dalam kegiatan belajar. Penyajian konten masalah ini bertujuan untuk membangun kepedulian murid terhadap isu-isu lokal yang ada di lingkungan sekitar mereka, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap fenomena yang mereka alami secara langsung.
Masalah sampah di sekolah merupakan salah satu contoh konten masalah yang bisa diangkat dalam pembelajaran STEM. Masalah ini bersifat kontekstual karena murid mengalaminya (melihat, menghasilkan, dan berinteraksi) langsung dengan sampah setiap hari.
Berikut adalah contoh penyajian masalah timbulan sampah di lingkungan sekolah dalam pembelajaran STEM.
Proyek Sederhana : Pembuatan Pupuk Kompos
Masalah Kontekstual : Timbulan Sampah di Lingkungan Sekolah
Masalah Kontekstual : Timbulan Sampah di Lingkungan Sekolah
Arahan Identifikasi Masalah
- Mari kita berkeliling di lingkungan sekitar, amati kondisi sampah yang dihasilkan dari aktivitas satuan pendidikan! (Sampah bercampur atau terpilah)
- Pertanyaan pemantik: Apa yang dapat kita lakukan untuk mengolah sampah tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk tanaman?
- Rancanglah cara pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan, hemat biaya, dan mudah dilakukan oleh warga satuan pendidikan.
Adapun deskripsi integrasi STEM pada topik pembuatan pupuk kompos adalah sebagai berikut.
Sains (S) : Sampah organik dapat didaur ulang menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.
Teknologi (T) : Murid menggunakan aktivator (pengurai), termometer kompos, higrometer, dan pH meter untuk memantau suhu, kelembapan, dan pH di dalam tumpukan kompos secara berkala.
Enjnering (E) : Murid merancang komposter sederhana dengan mempertimbangkan lama penguraian dan jenis sampah organik di lingkungan sekolah (daun kering, sisa makanan dari kantin sekolah atau Makan Bergizi Gratis)
Matematika (M) : Murid membaca dan menyajikan data (dalam bentuk tabel) perkembangan proses pengomposan seperti suhu, kelembapan, pH secara berkala.
Dalam praktiknya, pembelajaran STEM dengan topik pembuatan pupuk kompos ini menggunakan teknologi sederhana atau STEM yang mudah dan murah, yang memanfaatkan alat sederhana atau bahan bekas yang tersedia di lingkungan sekitar.
Melalui prinsip mudah dan murah, pembelajaran STEM tidak harus bergantung pada fasilitas yang mahal atau teknologi kompleks. Pendidik dapat memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia di sekitar sekolah seperti sampah untuk mengajak murid melakukan pengamatan, percobaan, dan menciptakan solusi.
Selamat mencoba...

EmoticonEmoticon