Friday, March 26, 2021

Perjuangan 'Guru Donorer' Untuk Pendidikan

Guru honorer adalah guru yang memiliki tugas mengajar dan mendidik yang statusnya di lembaga pendidikan atau sekolah adalah kontrak. Guru honorer diangkat oleh kepala sekolah dan memperoleh honorarium per bulan dari dana Biaya Operasional Sekolah (BOS). 


Setiap memasuki tahun ajaran baru, kepala sekolah membagikan SK pembagian tugas guru sebagai acuan guru honorer melaksanakan tugasnya. Guru honorer ini juga memakai seragam layaknya guru PNS karena pada dasarnya perannya sama dengan seorang guru yang digaji oleh negara. 

 

Berdasarkan data dari Kemdikbud, sampai tahun 2020 jumlah guru berstatus non-PNS di Indonesia mencapai 973.228 orang. Dari jumlah tersebut, 728.461 diantaranya berstatus guru honorer sekolah.


Saat ini, dana BOS dari pemerintah pusat yang dapat digunakan untuk pemberian honorarium untuk guru honorer maksimal 50 persen. Itu pun dengan syarat guru honorer yang akan mendapatkan honorarium dari dana BOS harus memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).


Selain itu, jumlah siswa di sebagian sekolah sedikit, sementara jumlah guru honorernya banyak. Akibatnya, honorarium per bulan guru honorer di sekolah-sekolah tersebut sangat rendah.


Honorarium per bulan yang sangat rendah berbanding terbalik dengan tugas yang harus dikerjakan. Mulai dari menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), melakukan pembelajaran, membuat kisi-kisi asesmen, membuat instrumen asesmen, melaksanakan asesmen, melakukan analisis, dan sebagainya.

 

Belum lagi tugas-tugas administratif seperti membantu data pokok pendidikan (Dapodik), mengurus dana BOS, membantu guru-guru yang lain, dan masih banyak tugas lainnya. Banyak guru muda yang masih berstatus honorer diberi tugas menumpuk, ini membuktikan bahwa mereka memang memiliki kemampuan lebih.


Guru Donorer

Bila dilihat sepintas lalu, kata honorer hampir serupa dengan kata donorer. Yang mana kata donor adalah memberikan sebagian apa yang kita miliki tanpa pamrih apapun. Sama seperti donor, istilah guru honorer disebutkan bagi mereka yang rela mengajar dari pagi sampai sore tetapi masih ditemukan honorariumnya sekitar 300 ribu per bulan.

 

Di zaman sekarang, uang sebanyak itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari selama satu bulan. Oleh karena itu, masih banyak guru honorer yang memiliki pekerjaan sampingan di luar sekolah.


Guru 'donorer' masih berjuang melawan nestapa. Meski dengan honorarium per bulan sangat rendah, pengabdian tanpa kepastian, tapi mereka tetap cinta pekerjaan. Sebagaimana foto-foto yang diunggah salah satu akun facebook @dausllina di Facebook Grup PPPK (P3K GURU 2021) pada Kamis (25/3/2021).



Kedua foto-foto ini menceritakan perjuangan guru honorer untuk pendidikan. Setiap hari harus melewati jalan rusak berlumpur untuk mengajar ke sekolah. 


Postingan akun facebook @dausllina itu pun lantas mendapat banyak dukungan positif dari para guru yang membanjiri kolom komentar postingannya.


"Semoga segara diangkat menjadi ASN, atas perjuangan bapak ibu," tulis @adillahbaguspanuntun.


"Ya Allah... Sabar ya teman-teman, demi anak bangsa, moga saja tahun ini kita honorer jadi ASN, Aamin," tulis @sumarnimarni.


"Perjuangan mu lebih Mulya, walaupun gaji tak seberapa . semangat untuk mencerdaskan anak bangsa tetap membara," tulis @titinnurhayati.


"Masyaalloh luar biasa perjuangan guru honorer Semangat pak," tulis @sititaryuni.


"Salut dengan perjuangannya" tulis @rumhaedahabidin.  

2 comments

The four most common aluminium grades obtainable as sheet metallic are 1100-H14, 3003-H14, 5052-H32, and 6061-T6. Grade 430 is a popular grade, low-cost various to sequence 300's grades. This is used when excessive corrosion resistance isn't a major criterion. Common grade for equipment products, typically with a brushed finish. It provides good corrosion resistance socket organizer while sustaining formability and weldability.


EmoticonEmoticon