Monday, August 2, 2021

Runtuhnya Mitos Gaya Belajar

Mitos Gaya Belajar

Saya awali tulisan ini dengan sebuah unggahan akun Facebook atas nama Yohanes Surya (OFFICIAL) yang membagikan tentang mitos gaya belajar (teori VARK, visual, auditory, reading/writing,  dan kinestetik). Agar tidak penasaran, langsung saja baca. Begini isinya.

Jangan batasi potensimu.

Teori pendidikan membagi orang atas 4 jenis pembelajaran VARK (Visual, Auditory, Reading/writing, Kinesthetic).
Akhir-akhir ini beberapa penelitian (termasuk riset yang didanai google search) mempertanyakan kebenaran teori VARK ini.

Teori VARK membatasi diri kita dalam belajar. Ini sangat merugikan Teori ini membuat anak yang merasa lebih visual, malas belajar hal yang membutuhkan baca/tulis. Atau anak yang merasa lebih auditory, mempunyai alasan untuk tidak belajar hal yang membutuhkan kinestetik, dsb... dsb.

Saya pernah di"vonis" pimpinan paduan suara (waktu SMA) bahwa saya tidak bisa menyanyi. Sejak saat itu saya menghidndari belajar alat-alat musik. Saya membatasi diri saya sendiri sampai saat ini saya tidak bisa main gitar, piano atau alat musik apapun. Padahal menurut tes bakat, saya lebih berbakat jadi komposer musik daripada jadi fisikawan.

Yang membuat seorang mampu belajar lebih baik adalah metode atau strategi pembelajarannya. Seorang mudah belajar geografi kalau lebih banyak visualnya. Seorang mudah belajar olahraga kalau lebih banyak kinestetiknya. Seorang mudah belajar matematikan kalau berulang-ulang menulis mengerjakan ratusan soal-soal. Seorang lebih mudah belajar musik dengan lebih banyak mendengar (auiditory).

Metode mengajar yang baik adalah metode multimedia, yang menghubungkan VARK secara tepat.

Misalnya ketika belajar bunyi: kita gunakan visual untuk penggambaran hantaran bunyi lewat gerakan atom-atom, auditory untuk membedakan frekuensi akibat efek dopler bunyi, baca/tulis untuk menurunkan dan mengerti rumus-rumus bunyi, kinestetik ketika melakukan berbagai eksperimen bunyi.

Teknologi multimedia (komputer, animasi) dapat menggabungkan VARK ini membuat pembelajaran menjadi gampang, asyik, menyenangkan. Belajar akan menyenangkan kalau dipelajarinya asyik dan mudah difahami, bukan?

Ayo jangan penjarakan diri kita denga penjara-penjara yang kita cipatakan sendiri. 

Teori gaya belajar atau teori VARK ini begitu populer di kalangan guru dan orangtua. Paul Howard Jones mengungkap fakta mengejutkan mengenai keyakinan guru pada teori gaya belajar. Hasil survei menunjukkan lebih dari 90 persen guru di berbagai negara di belahan dunia percaya pada teori gaya belajar ini. Mereka yakin bahwa "seseorang bakal belajar lebih baik ketika menerima informasi dengan gaya belajar mereka sukai, entah itu visual, auditori, atau kinestetik". Pertanyaanya, apakah keyakinan itu fakta ... atau mitos?

Apa kata riset
VARK (Visual, Auditory, Reading/Writing, Kinesthetic)

Alih-alih memberi penguatan, berbagai hasil riset justru berkata sebaliknya. Mari kita simak, misalnya hasil studi terbaru dari Hushman & O'Loughlin (2019) yang meneliti ratusan pelajar. Hushman menemukan, ternyata menyesuaikan cara penyampaian materi dengan gaya belajar yang disukai anak-anak tidak meningkatkan prestasi merasa. Selain itu, untuk memahami materi, para siswa tidak membatasi diri pada cara belajar tertentu. Mereka mengkombinasi berbagai pendekatan, termasuk yang dianggap cocok denga tipe (yang dilabelkan) pada mereka.

Apakah anak yang merasa yakin bahwa dirinya tipe visual berarti dia sungguh akan menyerap lebih materi visual? Atau anak yang meyakini dirinya tipe verbal, benarkah akan menyerap lebih materi tulisan? Studi Knoll dkk (2017) menjawab: Tidak! Memilih antara visual atau verbal, itu tergantung selera anak saja, tetapi bukan berarti dia betul-betul memiliki potensi visual atau verbal lebih ketimbang yang lain.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Rogowsky dkk (2015), yang tidak mendapati kegunaan dari melabeli seseorang dengan gaya belajar tertentu. Anak yang meraa dirinya tipe auditori, saat dites secara auditori, hasilnya tidak lebih baik ketimbang yang lain. Dari berbagai macam tes, yang unggul ternyata anak yang terampil membaca teks. Menurut Rogowsky, kita justru bisa merugikan anak kalau melabeli dia "auditori" lalu menyuruh terus-menerus belajar lewat pendengaran saja, dan lalai menguatkan keterampilannya memahami tulisan.

Bahkan belasan tahun yang lalu, tim Harold Pashler (2009) sudah memperingatkan, meskipun sangat populer, bukti ilmiah untuk teori gaya belajar "sangat lemah dan tak meyakinkan". Pashler mengatakan, kita seharusnya merasa terganggu oleh hal ini, karena keyakinan yang keliru tentang cara belajar bakal membuat siswa tak optimal belajar dan guru tak optimal mengajar.

Diolah dari berbagai sumber diantaranya tulisan Ellen K berjudul Mitos Gaya Belajar dan Salah Kaprah Kecerdasan Majemuk


EmoticonEmoticon