Sunday, June 27, 2021

Guru Seharusnya Menggali Potensi Siswa, Bukan Memvonis Pintar dan Bodoh

Ilustrasi by suara.com

Tak jarang sebagian guru (karena tak bisa menahan emosi) mengucapkan kata negatif seperti 'bodoh', 'nakal', 'tolol', atau lainnya pada murid. Ucapan negatif itu dilontar oleh guru tentu ada alasannya. Bisa jadi karena sang murid tidak bisa mengerjakan PR, tidak mampu menjawab pertanyaan guru, dan sulit paham pelajaran. Atau bisa juga karena murid tersebut sulit diatur, sering membuat kegaduhan di kelas, ribut, mengobrol seenaknya ketika guru menerangkan.

Bagi para murid, perlakuan guru seperti di atas bila dilakukan secara berulang-ulang akan berpengaruh (membekas) pada jiwanya. Perlakuan tak seharusnya itu membuat sedih, rendah diri, dan menjadi momok. Kondisi demikian disebut dengan paralyzing experiences

Apa itu  paralyzing experiences? Paralyzing experiences adalah jenis pengalaman yang memalukan begitu parah sehingga menimbulkan respon negatif dalam waktu lama untuk situasi yang sama. 

Karena dampak negatif yang serius bagi perkembangan jiwa murid, maka sepatutnya bagi guru untuk berhati-hati, jangan sampai melontarkan kata-kata negatif atau melakukan tindakan yang berujung pada paralyzing experiences. 

Alih-alih menyudutkan murid yang sulit paham pelajaran dengan kata-kata negatif dan cenderung berfokus untuk memberi pujian pada murid pintar, guru seharusnya menggali potensi murid. Untuk itu, setiap guru perlu memiliki sudut pandang bahwa semua anak cerdas dan tidak bodoh. Guru harus menyadari bahwa Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal. Para murid adalah kumpulan manusia yang unik dengan kemampuan berbeda (kecrdasan majemuk).

Sekali lagi, setiap murid memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda. Para murid adalah sang jawara sesuai dengan bakat yang ada pada dirinya. Hanya saja bakat-bakat itu masih terpendam. Nah, tugas guru, juga orang tua menemukan dan mengembangkannya.

Lantas, bagaimana cara seorang guru untuk menemukan dan mengembangkan bakat atau potensi siswa? Mengutip steemit, berikut adalah 5 cara mudah untuk mengetahui bakat atau potensi siswa. 

Pertama, wawancara. Cara paling mudah untuk menemukan bakat siswa adalah dengan melakukan wawancara langsung. Jalinlah komunikasi yang baik dengan siswa anda dan tanyalah bidang apa yang paling ia sukai. Namun, jika sudah mendapatkan jawabannya, jangan lupa untuk menanyakan kembali alasan siswa anda menyukai bidang tersebut. Karena ada siswa yang menyukai bidang tertentu karena guru yang mengajar biidang itu menyenangkan.

Kedua, tes minat dan bakat. Cara kedua yang bisa anda lakukan untuk menemukan minat dan bakat siswa adalah dengan melakukan tes minat dan bakat. Anda dapat mempelajari tes ini atau anda dapat meminta bantuan ahlinya. Tes ini dilakukan untuk siswa yang belum tahu apa bidang yang disukainya. Melalui hasil tes tersebut akan diketahui bahwa siswa tersebut menyukai bidang tertentu.

Ketiga, observasi. Kita dapat melihat antusiasme siswa pada sat mengikuti pelajaran tertentu. Misal, ada seorang siswa yang malas masuk ke dalam kelas namun saat pelajaran tertentu ia mengikuti pelajaran dengan sangat antusias. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa dia menyukai bidang itu. Guru juga bisa mengamati hobi siswa atau buku yang sering dibaca.

Keempat, riset. Riset mirip dengan observasi. Namun riset melibatkan data dan fakta yang lebih spesifik. Riset dapat dilakukan dengan mengumpulkan semua nilai tes dari semua mata pelajaran, tingkat kehadiran kelas, dan nilai tugas praktik. Sebagai contoh, ada siswa yang mendapat nilai tinggi di bidang olahraga dan selalu hadir dalam pelajaran olahraga. Ditambah lagi ia sering meraih prestasi dalam pertandingan di bidang itu, maka dapat disimpulkan bahwa bidang yang disukai adalah olahraga.

Kelima, cita-cita. Menanyakan cita-cita termasuk salah satu cara untuk menemukan minat dan bakat siswa. Misal, adasiswa yang bercita-cita ingin menjadi pengusaha maka pelajaran ekonomi sangat cocok untuknya. Atau misalnya ada siswa yang ingin menjadi ilmuwan maka pelajaran ilmu pengetahuan sangat tepat untuknya. 

Jika semua guru dapat menggali potensi murid atau mau dan mampu menemukan dan mengembangkan minat dan bakat siswa, tentu tidak akan ada lagi yang merasa bodoh dan minder. Dengan demikian proses pendidikan yang berpihak pada anak bisa terlaksana dan kualitas pendidikan pun meningkat.  


EmoticonEmoticon